opensubscriber
   Find in this group all groups
 
Unknown more information…

M : Mayapadaprana@googlegroups.com 14 July 2006 • 3:15PM -0400

Fwd: Reinkarnasi Dalam Pemikiran Teosofi (1)
by si Brewok

REPLY TO AUTHOR
 
REPLY TO GROUP







--- In mayapadaprana@yaho..., Eduard de Grave
<red_conjurer@y...> wrote:

Reinkarnasi Dalam Pemikiran Teosofi (Bagian Pertama)
  oleh : A. Samsu Triadi (*)
  ======================
  
  Apakah Reinkarnasi itu ada ?
  

  Dalam suatu pertemuan antar warga katolik di suatu lingkungan,
yang lebih umum dikenal dengan pertemuan kring, muncul suatu
pertanyaan dari salah satu warga: ¡§ Apakah re-inkarnasi itu ada ?¡¨
  
  Untuk mengatahui pendapat dari para warga lain, pertanyaan ini
dikembalikan kepada para hadirin: ¡§Menurut pendapat saudara apakah
re-inkarnasi itu ada ?¡¨
  
  Sebagian berpendapat ada, sebagian lagi berpendapat tidak.
Bagaimana menurut pendapat saudara pembaca ?
  
  Sepertinya pertanyaan semacam ini akan sulit dijawab bila kita
tidak siap dengan bahan yang berhubungan dengan persoalan tersebut.
Untuk memberi sekedar ilustrasi tentang persoalan yang dipertanyakan
itu, marilah kita membaca apa yang dialami oleh seorang gadis India
yang bernama Shanti Dewi.
  

  Shanti Dewi lahir di Delhi pada tahun 1926. Ketika ia berumur 3
tahun, dia mulai berkata-kata tentang kehidupannya yang lalu. Dia
mengatakan bahwa dulu dia tinggal di Mathura, 80 mil (ƒ¦130 km) dari
Delhi, dan dia lahir pada tahun 1902 dari kasta Choban. Dia menikah
dengan seorang pedagang kain yang bernama Kedar Nath Chaubey. Pada
waktu melahirkan anaknya yang kedua, seorang anak laki-laki, ia
meninggal 10 hari setelah kelahiran anak tersebut.
  
  Karena kata-katanya, pada waktu itu kebanyakan orang di sekitarnya
menganggap gadis cilik itu kurang waras. Akan tetapi, walaupun
hampir semua orang di lingkungannya menganggap Shanti Dewi seorang
gadis cilik kurang waras, toh orang tuanya masih menyempatkan diri
untuk mencari tahu tentang orang yang mempunyai hubungan keluarga
dengan Kedar Nath Chaubey di Mathura.
  
  Ketika Shanti Dewi berumur 9 tahun, tahun 1935, orang tuanya
menulis surat ke orang tersebut, untuk menanyakan apakah ada orang
yang bernama Kedar Nath Chaubey, yang mempunyai pekerjaan sebagai
pedagang kain, dan isterinya meninggal 10 hari setelah melahirkan
seorang anak laki-laki, seperti yang sering diceriterakan oleh
anaknya. Kenalan itu menjawab suratnya dengan membenarkan semua hal
yang ditanyakannya. Kemudian keluarga dari suaminya mengirimkan
seorang paman (dari kehidupan yang lalu) dari Shanti Dewi, dan
Shanti Dewi segera mengenali dan memeluknya ketika dia datang.
Kemudian, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, suami dan puteranya
(dari kehidupan yang lalu) datang ke Delhi untuk menemui Shanti
Dewi, Shanti Dewi segera mengenali mereka.
  
  Pada tahun berikutnya, tahun 1936, dibentuk suatu komite untuk
mencatat apa yang akan terjadi bila Shanti Dewi dibawa ke rumah
(yang sering dikatakan oleh gadis cilik ini sebagai rumah di
kehidupannya yang lalu) di Mathura. Mereka ke Mathura dengan kereta
api.
  
  Begitu kereta berhenti di stasiun Mathura, Shanti Dewi segera
mengenali salah seorang kerabatnya, walaupun yang bersangkutan
berada diantara kerumunan banyak orang. Dia menggunakan bahasa
daerah di tempat tersebut, walaupun dia belum pernah ke sana.
Kemudian dia dinaikkan ke sebuah kereta kuda (dokar), dan kusirnya
diinstruksikan untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh Shanti Dewi.
Dia kelihatan sangat hapal dengan jalan-jalan di kota itu, walaupun
itu adalah pertama kali dia datang ke Mathura, dan dia memberi
petunjuk kepada kusir untuk menuju rumah Kedar Nath Chaubey. Rumah
itu telah dicat dengan cat yang baru, akan tetapi dia dengan mudah
dapat mengenalinya. Didekat rumah itu ada seorang Brahmana tua, dan
dia mengenalinya sebagai mertuanya.
  
  Waktu memasuki rumah, Shanti Dewi ditanya tentang susunan ruang,
kloset, dan lain-lainnya. Dan semuanya dijawab dengan tepat.
Kemudian dia pergi ke rumah sebelah, yang merupakan rumah dari orang
tuanya (dari kehidupannya yang lalu), dan mengenali orang tuanya,
walaupun waktu itu orang tuanya berada dikerumunan sekitar 50 orang.
Setelah itu, dia mengatakan bahwa dia pernah menyimpan uang di salah
satu sudut dari rumah kerabatnya di dekat rumah itu. Komite menggali
di lokasi yang disebutkan oleh gadis cilik itu, akan tetapi mereka
tidak menemukan apa-apa. Shanti Dewi tetap berkukuh, bahwa dia telah
menyimpan sejumlah uang ditempat itu. Akhirnya Kedar Nath Chaubey
mengaku, bahwa dia telah mengambil dan memindahkan uang tersebut.
  
  Emosinya yang dalam pada setiap pertemuan dengan orang yang
disayanginya, merupakan suatu persembahan yang menyentuh terhadap
kesetiaan jiwa yang tak kunjung padam kepada dirinya sendiri. Akan
tetapi, derita dari hidup di dua kehidupan pada saat yang sama
adalah sangat sulit untuk dipikulnya. Oleh karena itu, kebanyakan
dari kita oleh ¡§Aturan Besar yang Berbelas Kasihan¡¨, telah ditutup
masa lalunya, dengan demikian kita hanya menjalani hidup untuk tiap
episode kehidupan sekarang.
  

  Ada banyak kasus yang sama dengan kejadian ini, dan beberapa dari
padanya telah diteliti oleh para ahli. Semua kejadian itu dicatat
dalam buku yang diterbitkan oleh ahli-ahli tersebut. Salah satu
hasil kerja yang ditulis oleh Dr. Stevenson, seorang professor
psychology dari Universitas Virginia, Amerika Serikat, mencakup
laporan-laporan tentang peristiwa-peristiwa seperti yang dialami
oleh Shanti Dewi. Dia menyelidiki 1600 kasus semacam itu di Inggris,
Eropa, Amerika, dan Timur Jauh (Asia Timur). Dalam semua kasus ini,
anak-anak mengatakan bahwa mereka masih mengingat kejadian-kejadian
khusus dari kehidupannya di masa lalu. Dengan pertolongan suatu
jaringan informan dibanyak Negara, dia mendapatkan kesimpulan bahwa
90 % dari kasus-kasus semacam ini adalah betul dan sesuai dengan
kenyataan ceritanya (historical fact). Dia menemukan bahwa anak-anak
semacam ini, yang berumur antara 2 sampai dengan 4 tahun, mulai
berceritera kepada orang tuanya bahwa mereka pernah hidup
sebelum kehidupannya yang sekarang.
  
  Dr. Stevenson mengatakan:
  ¡§Seorang anak yang mengatakan bahwa mereka pernah hidup pada
kehidupan sebelumnya, biasanya meminta untuk diantarkan ke tempat
dimana dia pernah hidup pada masa (lalu) itu. Untuk alasan ini dan
untuk memenuhi keinginan tahu mereka, orang tuanya biasanya hampir
selalu mencoba untuk mencari kerabat (dari kehidupan dimasa lalu).
dari anak-anak tersebut¡¨
  
  ¡§Apabila anak-anak itu di beritahu tentang semua data-data yang
dikehendakinya, terutama tentang identitas nama-nama dari
kerabatnya, pencaharian hampir selalu membuahkan hasil, -- apa yang
dinyatakan oleh anak-anak itu biasanya 90 % tepat.¡¨
  ¡§Dalam kasus umum semacam ini, apa yang diungkapkan oleh anak-
anak tentang kehidupannya yang lalu, mencapai jumlah dan kejelasan
yang tertinggi pada usia antara 3 sampai dengan 5 tahun. Setelah
itu, dalam banyak kasus, ingatannya terhadap kehidupan sebelumnya,
secara bertahap menjadi pudar.¡¨
  

  Dengan data-data dan hasil-hasil penelitian semacam ini, tentunya
para pembaca dipersilakan untuk merenung dan mengkaji sendiri,
berdasarkan pengalaman dan pemahaman masing-masing tentang apa yang
dapat dimengerti dalam hidupnya. Sebab re-inkarnasi ini sepertinya
sangat erat hubungannya dengan apa yang ditanyakan oleh murid-murid
Yesus (Yohanes pasal 9 ayat 1-2): 1 Waktu Yesus sedang lewat, Ia
melihat seorang yang buta sejak lahirnya. 2Murid-murid Nya bertanya
kepadanya:¡¨Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau
orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta ?¡¨
  
  Pertanyaan ini menunjukkan bahwa pada masa itu pengertian tentang
adanya kehidupan yang lalu sebelum kehidupan sekarang ¡§masih¡¨
dimengerti orang. Sebab, bila ia buta sejak lahir, maka kapan ia
telah berbuat dosa bila bukan pada kehidupan sebelumnya ?
  
  
  Sebelum mengakhiri pembahasan ini marilah kita mencoba merenung
mengenai persoalan hidup ini:
  ¡§Mengapa si A lebih kaya dari si B ?¡¨
  ¡¨ Kenapa si C sangat kuat sedangkan si D sangat lemah ?¡¨
  ¡§Kenapa si E sering sakit-sakitan, sedangkan si F sangat sehat?¡¨
dan seterusnya!
  Apakah Tuhan demikian tidak adil, sehingga menciptakan beberapa
macam menusia dengan kondisi yang berbeda-beda ?
  

  Atau mungkin pada awal mulanya semua sama, tingkat dan derajatnya,
sama kemam-puan dan keadaannya, sama taraf dan kondisinya, dan
perbedaan baru timbul karena hasil perbuatan dari kita masing-
masing ? Dari hasil perbuatan-perbuatan kita dari rentetan kehidupan-
kehidupan sebelumnya ?
  
  
  St. Paulus pernah berkata: ¡§Apa yang kamu tabur, itulah yang kamu
tuai !¡¨
  

  
  (*) A. Samsu Trihadi Ir. adalah wiraswastawan yang aktif di
berbagai organisasi spiritual seperti The Theosophical Society, SuMa
Ching Hai Centre dan Bhajan Sai Baba di Bandung. Beliau juga aktif
sebagai Yoga Trainer dan Spiritual Healer.


"Keep me away from the wisdom which does not cry, the philosophy
which does not laugh and the greatness which does not bow before
children."
  
  - Kahlil Gibran -
  
  http://www.friendster.com/edobrewok








--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---


Bookmark with:

Delicious   Digg   reddit   Facebook   StumbleUpon

opensubscriber is not affiliated with the authors of this message nor responsible for its content.