opensubscriber
   Find in this group all groups
 
Unknown more information…

b : bizzcomm@yahoogroups.com 5 March 2006 • 12:59AM -0500

[bizzcomm] Maraknya TKW yang jadi korban pemerkosaan di Timur Tengah
by reporter jalanan

REPLY TO AUTHOR
 
REPLY TO GROUP




Maraknya TKW yang jadi korban pemerkosaan di Timur Tengah
  
  Masih banyak orang Indonesia tak percaya bahwa cukup banyak TKW yang menjadi korban pemerkosaan di Tanah Arab sana. Mereka menganggap orang Arab itu seiman dan masih kerabat Nabi, jadi tak mungkin melakukan  perbuatan senista itu. Walau ada beberapa koran yang menuliskan tentang kejadian itu, mereka masih juga tak yakin. Berita itu ia anggap sebagai propaganda Barat saja untuk memojokkan Islam.
  
  Contohnya ada seorang milister bernama A. Nizami. Dia anggota milis
PPIINDIA dan beberapa milis lainnya. Ia juga menjadi moderator milis
Ekonomi-Indonesia. "Apakah bulan ini ada TKW yang diperkosa di Arab? Tidak!  Jika ada, pasti media massa yang didominasi orang kafir ramai  memblow-upnya," tulisnya. "Jadi TKW yang diperkosa di Arab tidak lebih  dari 3 orang per tahun," begitu ia berkomentar dengan entengnya. Entah darimana ia tahu angka itu.
  
  Rudapaksa seksual tersebut umumnya dilakukan oleh sang majikan atau anak majikan. Hanya TKW yang pemberani mau melaporkan ke polisi atau KBRI. Sebagian lagi takut karena kerap terjadi malah dia yang ditangkap. Dilaporkan juga ada oknum-oknum di KBRI yang malah menjajakan TKW kepada lelaki-lelaki Arab.
  
  Sebenarnya isu ini amat menarik buat para jurnalis yang ingin melakukan pelacakan dan peliputan secara meluas. Coba luangkan waktu sejenak jalan-jalan ke Sukabumi dan kota-kota kecil lainnya di Pulau Jawa yang sudah tahunan menjadi pemasok TKW. Di perkampungan itu bakal kita temui para remaja dan anak-anak berwajah kearab-araban. Padahal ibunya ya berwajah khas Indonesia.  
  
  Kalau untuk meliput langsung ke Arab Saudi dan negara-negara Arab lainnya mungkin agak repot ya, karena sistem pemerintahannya amat tertutup. Buat teman-teman yang  pernah mukim di Arab Saudi atau Kuwait dan negara-negara Arab lainnya,  tahukah Anda tentang kondisi kebebasan pers disana?
  
  Salam Anti Pemerkosaan!
  
  ReJa  
  _________________________________________________________________
  
  20 Bayi Lahir dari TKW
  
SUKABUMI, (PR).-
  Setiap bulan, sekira 15 hingga 20 bayi lahir dari rahim para tenaga kerja
wanita (TKW) sebagai hasil hubungan gelap dengan para majikan mereka.
  Pernyataan itu mengemuka dalam Dialog Publik "Penanganan Trafficking terhadap  Pekerja Rumah Tangga" yang diselenggarakan Pucuk Pimpinan Fatayat Nahdlatul  Ulama (NU) di Pondok Pesantren Sunanul Huda Sukabumi, Minggu (10/4)
  
  Salah satu peserta yakni Ketua Lembaga Pendamping dan Pengembangan Tenaga Kerja Indonesia (PPTKI), Normawati mengatakan, data tersebut diperoleh dari kedatangan para tenaga kerja Indonesia (TKI) perempuan di Terminal III Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Angka tersebut tidak termasuk para TKI perempuan yang hamil. "Tidak jarang para TKW datang sambil menggendong puluhan bayi," terang Norma.
  
  Menurutnya, para TKI yang menggendong anak tersebut pada umumnya bekerja di Timur Tengah, Saudi Arabia dan beberapa di antaranya bekerja di Malaysia.

  "Ironisnya, bayi-bayi anak dari TKI ini kebanyakan berasal Jawa Barat,"
sebutnya. Karena itu tak heran jika setiap tiba di bandara selalu terdengar ada TKI yang memberikan bayi yang tidak diinginkannya itu kepada orang yang ditemuinya di bandara. Kemungkinan mereka malu membawa bayi itu ke rumahnya dan bisa menjadi tanda tanya keluarganya.
  
  Disebutkan Norma, saat ini ia pun mendapat "amanah" untuk memelihara 15 orang anak TKI, dua di antaranya masih berusia empat bulan. "Bahkan pernah ada seorang TKI perempuan yang meminta saya untuk mengurus kedua anak hasil hubungannya dengan sipir penjara. Konon dia dipenjara di Kuwait selama
14 tahun.
  
  Dari hasil pendampingan LPPTKI terhadap para TKI ini juga terungkap satu kasus yang dialami seorang TKI asal Serang bernama Khodijah. Dia diperlakukan sewenang-wenang oleh oknum KBRI setempat saat meminta perlindungan setelah lari dari majikannya.
  
  "Saat di maktab KBRI, ternyata oleh oknum KBRI Khodijah ini kembali menjadi
korban trafficking. Ia dijual kepada lima orang lelaki Arab, dan dipaksa untuk
'melayani' mereka," kata Norma.
  
  Dikatakan, trafficking terhadap para TKI perempuan ini tidak hanya terjadi di
luar Indonesia. Karena setelah kepulangan mereka di tanah air pun kejahatan
itu masih membayangi mereka. Dalam kondisi sekarang ini kerawanan bandara
mungkin sudah dianggap cukup aman bagi para TKI karena ada pengawalan khusus yang diberikan oleh aparat polisi.
  
  Namun, bukan berarti para TKI sudah aman dari tindak kejahatan. Sebab tindak
kejahatan masih ada, seperti perlakuan dari sopir taksi gelap. Atau bahkan
ketika sampai di kampung halaman pun masih terdengar para TKI ini dipermainkan oleh tukang ojek.
  
  Dalam kesempatan dialog tersebut, seorang gadis asal Sumbawa Nusa Tenggara Barat (NTB) yang baru tiga bulan tiba di Indonesia menuturkan kembali pengalamannya sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di sebuah keluarga di negara Kuwait.
  
  Evi, demikian nama gadis yang dengan lugasnya bercerita dari awal
kedatangannya di Kuwait hingga ia kabur dari rumah majikannya, saat si majikan laki-laki memintanya untuk menjadi istri keduanya. Tinggal di penampungan di KBRI setempat selama empat bulan, tidak lantas membuatnya tenang, karena menurutnya, banyak oknum KBRI yang 'memanfaatkannya' untuk dijual kembali kepada laki-laki hidung belang.
  
  "Karena tidak mau melayani, saya pernah ditonjok oleh oknum KBRI itu. Akhirnya saya pun memilih bekerja memelihara anjing, memberi makan tikus dll., supaya saya punya sedikit uang," terang Evi.
  
  Pada acara yang dihadiri oleh ratusan pengurus dan anggota Fatayat NU dari
Kota Bogor, Kab. Bogor, Kab. Cianjur, Kota Sukabumi dan Kab. Sukabumi itu, Evi berkata pula bahwa ia sempat dipenjarakan selama 20 hari di penjara Kuwait.
  
"Dalam penjara ternyata ada 3.000 orang lebih TKW (tenaga kerja wanita, red)
asal Indonesia. Bahkan banyak di antaranya yang mempunyai anak," jelas
Evi.(D-27)***
  
  http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0405/12/0105.htm
  
  _________________________________________________________________
  
  Bayi-bayi yang Lahir dari Rahim TKW  
  
  --Anehnya, kita menjadi "jayuts" (lawan kata dari "ghirrah"), tidak peduli
dengan wanita-wanita kita yang dijajah kehormatannya. Itukah sebabnya bangsa ini terus ditimpa musibah?
  
  KABAR yang dirilis pucuk pimpinan Fatayat Nahdlatul Ulama bahwa sekira 15
hingga 20 bayi lahir dari rahim para tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia,
mestinya mengejutkan kita. Menjadi tidak mengejutkan karena peristiwa ini
sudah berlangsung lama dan sudah banyak orang tahu. Meski demikian,
diungkapkannya kembali kasus-kasus seperti ini sungguh menyentak dan menyayat hati kita. Sudah sedemikian miskinkah bangsa ini sehingga kenistaan dan kehinaan yang kita peroleh setiap hari ditelan begitu saja? Kita diam, tanpa bicara, tanpa protes, layaknya seorang budak yang bisa digauli dan dijualbelikan. Miskin dan kemiskinan adalah takdir Tuhan yang bisa diubah dengan usaha kita.
  
  Allah tidak pernah memperlihatkan takdir seseorang, kecuali senantiasa menjadi misteri, agar manusia mencari jawabannya. Manusia yang tidak berjuang untuk memecahkan misteri takdirnya akan tetap terpuruk dalam kemiskinan dan kefakiran. Sementara mereka yang berhasil memecahkan persoalan hidupnya, akan mendapatkan takdirnya sebagai orang yang kaya. Sayangnya, misteri itu menjadi semakin terstruktur dalam suatu sistem negara, sehingga kaya atau miskinnya rakyat ini bergantung kepada sejauh mana pemerintah peduli terhadap kemakmuran bangsanya.
  
  Kenyataannya, kekayaan dan kemiskinan pada bangsa Indonesia begitu terpola. Satu sisi, segelintir orang memiliki kekayaan yang sedemikian banyak sehingga tak terhitung jumlahnya. Di sisi lain, sedemikian banyak jumlah rakyat negeri ini yang berada di bawah garis kemiskinan sehingga sekadar mendapatkan makan untuk hari ini pun sulit. Ini semua menggambarkan tanggung jawab pemerintah untuk memakmurkan rakyatnya tidak dilaksanakan dengan baik. Alih-alih mewujudkan kemakmuran rakyat bersama, yang terjadi justru jatah kemakmuran rakyat terus digerogoti para birokrat dan pengusaha melalui korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
  
  Kemiskinan harta sesungguhnya tidak menghalangi seseorang masuk surga,
sebagaimana orang kaya berhak masuk surga. Namun demikian, jika bangsa
Indonesia mengalami kemiskinan harta, sekaligus nurani, apa yang bisa
diharapkan dari bangsa ini? Kemiskinan harta ditandai dengan utang
negara dan swasta yang menumpuk lebih dari 150 miliar dollar AS. Aset
negara yang ada terus dijual kepada pihak asing dengan harga yang amat
murah. Sedangkan sisa aset yang ada menjadi jarahan para birokrat dan
pengusaha, dengan cara KKN.
  
  Rakyat yang miskin berusaha menyerbu kota, meninggalkan kampung
halaman, sekadar mencari pekerjaan untuk menopang hidup. Di kota,
pekerjaan sudah mencapai titik jenuh, apalagi krisis melanda negeri
ini sejak 1977 hingga saat ini tidak kunjung pulih. Jangankan pekerja
baru, karyawan yang lama pun terus mengalami pemutusan hubungan kerja.
Akibat tidak seimbangnya antara lowongan kerja dan pencari kerja, maka
mencari kerja ke luar negeri menjadi sebuah pilihan.
  
  Sayangnya, lagi-lagi, pemerintah tidak cukup tanggap dengan rakyatnya yang
berusaha survive. Rakyat dibiarkan berjuang sendiri di luar negeri
tanpa perlindungan yang memadai. Mestinya pemerintah memberikan
perlindungan hukum dan pengayoman yang memadai. Namun senyatanya,
para TKI, juga TKW justru menjadi umpan para calo tenaga kerja.
Mereka menjadi sapi perahan dengan cara kolusi antara birokrat dan
para cukong.
  
  Padahal, di negeri orang, para TKI dan para TKW bekerja mati-matian.
Para TKW harus menghadapi majikan yang tidak mengenal belas kasihan
dan tidak sungkan untuk memerkosa, tidak membayar gaji, dan
menyiksanya. Sementara wanita yang melarikan diri dari majikan justru
sering kali mengalami nasib sial karena berikutnya menjadi umpan
empuk mavia tenaga kerja.
  
  Maka kita tidak kaget saat mendengar nasib para TKW yang setiap bulan
sedikitnya 15 sampai dengan 20 orang mengandung bayi-bayi majikannya
atau bayi siapa yang tidak jelas. Di Jeddah, Arab Saudi misalnya,
Konjen RI di sana setiap bulan menampung sekira 150 orang TKW yang
melarikan diri dari majikannya. Di Ryadh, sekira 400 orang TKW meminta
perlindungan kepada Kedubes RI di sana, di Kuwait angkanya juga lebih
dari 300 orang. Belum lagi di Malaysia, Singapura, Taiwan dan
sebagainya. Anehnya, kita menjadi jayuts (lawan kata dari ghirrah),
tidak peduli dengan wanita-wanita kita yang dijajah kehormatannya.
Itukah sebabnya bangsa ini terus ditimpa musibah? Mari kita introspeksi.
  
  ***
  http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0405/13/02.htm
  _________________________________________________________________


---------------------------------
Apakah Anda Yahoo!?
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

Bookmark with:

Delicious   Digg   reddit   Facebook   StumbleUpon

opensubscriber is not affiliated with the authors of this message nor responsible for its content.