Harap hemat bandwith
----------------------
Pada 3/10/06 3:39AM, "Ice" menulis :
> Saya mohon maaf sebesarnya kepada para dokter disini, saya harap para dokter
> tidak tersinggung dgn tulisan saya ini selain sekarang era transparansi juga
> inilah sebagian perasaan kami yg selama ini kami pendam dibenak kami bila
> ada sesusatu terjadi pada pasien yg berakibat malah jadi fatal....
Kalau dokternya tersinggung, tulisan Bapak nggak akan muncul di milis ini
Pak hehehe ...
Tapi saya tertarik satu hal saja - dan jelas ini tidak untuk menilai kasus
Medan tersebut. Ini dari sedikit pengalaman saja.
Mengapa darah transfusi terlambat ?
Sesuai dengan PP no 18/1980, pemerintah memberikan/melimpahkan tugas ke PMI
sebagai satu-satunya penyelenggara transfusi darah. Dengan demikian, tidak
ada organisasi/badan/lembaga lain yang memiliki kewenangan itu selain PMI.
PMI mendapatkan stock darah dari 2 jenis donor. Donor darah sukarela adalah
yang mendonorkan darahnya secara acak, tidak ditujukan untuk seorang pasien
tertentu. Bisa diperoleh dari yang datang ke PMI secara rutin dan kehendak
sendiri. Atau dari kegiatan-kegiatan donor darah oleh
kantor/lembaga/organisasi/perhimpunan masyarakat.
Donor darah pengganti, adalah donor yang mendonorkan darahnya ditujukan
untuk seorang pasien tertentu. Bisa dari keluarga pasien, atau dari yang
lain.
Pada proses donor darah sukarela, semua yang ingin donor hanya
dipersyaratkan memenuhi kriteria-kriteria tertentu, tanpa membatasi golongan
darahnya. Sedang untuk donor darah pengganti, lebih dahulu discreening
menurut golongan darah dari pasien yang dituju.
Terhadap semua darah donor tersebut dilakukan screening. Saat ini ada 4 yang
menurut standar diperiksa PMI : Syphillis, Hepatitis B dan C, serta HIV/AIDS
(beberapa cabang PMI ada yang menambahkan sesuai kondisi lokal).
Setelah lolos, untuk donor darah sukarela, masuk ke stock PMI. Sedangkan
untuk donor darah pengganti, segera memasuki tes berikutnya untuk memutuskan
kelayakan diberikan pada pasien tertentu (proses cross-match). Proses yang
sama berlaku bila donor darah sukarela di stock akan ditransfusikan kepada
pasien tertentu.
Proses cross-match dilakukan dua tahap : Cross-match mayor dan minor.
Uraiannya cukup rumit, tapi intinya tidak sekedar mencocokkan golongan
darah. Untuk setiap tahapan, harus juga diperhatikan kemungkinan adanya cold
and warm antibody, sehingga ada beda suhu perlakuan saat melakukan test.
Rata-rata, teknik ini memang memakan waktu sekitar 60-90 menit/satu kantong
darah.
Mengapa harus di-cross match ? Adanya ketidakcocokan bisa berakibat fatal
bagi pasien.
Mengapa kadang sampai 2 jam ? Untuk setiap teknik pemeriksaan, mesin
pemeriksa dan pelaksana bisa running pemeriksaan lebih dari 1 (yg standard
biasanya 4 - 8 sekali running). Jadi, angka 60-90 menit ini bisa dicapai
bila hanya untuk 1 sampel/kantong darah yang dijalankan tunggal.
Untuk itu, PMI juga menimbang kondisi. Untuk pasien perdarahan akibat
operasi, obstetri, DHF, dan trauma, lebih didahulukan prosesnya. Sedangkan
untuk pasien lain, kadang terpaksa diprioritaskan kemudian. Semua demi
"sebesar-besar keuntungan pasien".
Service-cost yang ditetapkan untuk PMI, adalah untuk proses-proses screening
sampai ke cross-match ini. Anggapan bahwa "membeli darah" ke PMI harus
diluruskan.
Selanjutnya, muncul kendala geografis bila letak UTD/UPTD (Unit Pelaksana
Transfusi Darah) PMI berjauhan dengan rumah sakit. Jarak sering
memperpanjang waktu, dan terutama berisiko terhadap kualitas darah donor.
Prinsip PMI, setelah darah diserahkan dari PMI, maka darah itu tidak bisa
lagi dikembalikan (karena prinsip keamanan).
Untuk itu dikembangkan Bank Darah di RS. Prinsip kerjanya menjadi semacam
"cabang" dari UTD PMI. Stock darah tetap diambil dari PMI (artinya proses
screening awal pendonor tetap dilakukan di PMI). Proses di RS adalah
cross-match sebelum diberikan kepada pasien.
Mengatasi kendala waktu ini, kadang di lapangan muncul juga "trik". Di
bidang bedah atau obsgin misalnya, bila untuk suatu kondisi ada tanda-tanda
risiko perdarahan, dokter sering meminta yang bisa disebut "profilaksis".
Dalam kondisi ini, sampel darah pasien sudah dikirimkan dulu ke PMI, dengan
catatan tertentu, misalnya : risiko perdarahan, perkiraan kebutuhan 2
kantong.
Oleh PMI, sampel tersebut sudah dilakukan cross-match terlebih dahulu,
dipersiapkan kantong darahnya. Bila nanti ternyata diperlukan karena terjadi
perdarahan, maka kantong darah sudah siap dan memotong waktu. Dalam kondisi
spt ini, everybody happy tentunya.
Masalahnya, kalau kemudian tidak terjadi perdarahan, maka service-cost tetap
harus dibayar, meskipun darah tidak jadi diserahkan dari PMI. Kadang ini
jadi kendala, karena merasa tidak menggunakan darahnya. Masalahnya, proses
cross-match itu sendiri tetap memerlukan biaya.
Ada juga memang kritik : kalau begitu darah dari stock PMI mendapat
perlakuan "rethawing" berulang ? Untuk itulah ada kebijakan dari PMI (meski
saya khawatir mungkin ini termasuk "kreativitas lokal").
Untuk model "profilaksis" spt ini, PMI mensyaratkan hanya darah donor
pengganti. Artinya, darah yang diuji cross-match-nya itu berasal dari
keluarga/dicari oleh keluarga pasien, bukan dari stock darah PMI. Sampel
darah calon donor dan pasien lah yang menjalani uji cross-match. Bila tiba
saatnya benar darah diperlukan, barulah donor tersebut benar-benar diambil
darahnya untuk transfusi. Bila kebutuhan darah ternyata banyak, maka barulah
diambilkan dari darah stock, sambil proses transfunsi kantung pertama/kedua
berjalan.
Dr Hendra dan dr. Lakshmi saya kira memiliki banyak pengalaman soal-soal
ini, spt permintaan darah peri-partum atau pre-operatif karena kondisi
tertentu.
Hal-hal spt inilah yang kadang tidak mudah dipahami oleh sebagian kalangan,
apalagi pada kondisi "emosional" oleh keterdesakan kondisi pasien. Anggapan
mengapa darah transfusi sampai 2 jam, memang itu terjadi di lapangan, sesuai
kenyataan bahwa proses cross-match memang membutuhkan waktu. Dan ini
dilakukan untuk tujuan yang juga penting : keselamatan pasien dari risiko
transfusi.
Alat-alat automatic untuk proses cross-match memang terus berkembang,
sehingga "running-time" memendek hingga kurang dari 1 jam (ada yang hanya 30
menit dan jumlah sampel sekali running sampai 32 sampel). Tetapi alat-alat
automatis ini juga mensyaratkan beberapa kriteria, sehingga pada beberapa
kondisi tertentu tidak dianjurkan menggunakan automatic-system.
Semoga bermanfaat, silakan para sejawat mengoreksi.
Tolong jangan ditanyakan, karena saya juga tidak tahu bagaimana kalau di
film ER kok bisa secepat itu mendapatkan darah transfusi, hanya dalam
hitungan menit. Mungkin dr Jo bisa menceritakan ?
tonang
_______________________________________________
MAILING LIST DOKTER INDONESIA (MLDI)
Sejarah, etika bermilis dan arsip, subscribe/unsubscribe dapat diakses di :
http://www.mldi.or.id atau
kirim mail ke: mailto:
dokter-request@itb....?subject=subscribe
&&&&
Informasi di atas adalah informasi kesehatan umum dan tidak dimaksudkan untuk menggantikan nasehat, diagnosis dan pengobatan dari tenaga kesehatan profesional
_______________________________________________
opensubscriber is not affiliated with the authors of this message nor responsible for its content.