[dpr-indonesia] Jurnalisme Warga, Pewarta Warga
by Sunny
 |
REPLY TO AUTHOR
|
 |
|
|
 |
REPLY TO GROUP
|
 |
|
a.. PIKIRAN RAKYAT
a.. Edisi Cetak - Rabu, 05 Desember 2007
Jurnalisme Warga, Pewarta Warga
Oleh SANTI INDRA ASTUTI
Tak bisa dimungkiri, Pesta Blogger Indonesia kembali menghangatkan wacana seputar citizen journalism (jurnalisme warga). Berkat kemajuan teknologi, dimulailah era baru dalam dunia jurnalisme, open source reporting. Sekarang, siapa saja bisa melaporkan apa saja yang dilihatnya, atau yang ingin dikatakannya. Berita, opini, reportase, sampai curhat yang sangat pribadi, semua bisa dibagi kepada yang lain. Tidak perlu menunggu wartawan menjemput. Tidak perlu menunggu menjadi somebody agar dilirik media.
Maraknya pewarta warga ditanggapi dengan reaksi berbeda. Publik tentu saja bersorak, inilah saatnya khalayak bersuara. Media mainstream--karena merasa terancam--menanggapi dengan reaksi yang cenderung negatif. Wujud perasaan terancam itu bermacam-macam, mempermasalahkan kode etik dan kredibilitas jurnalis warga, mempertanyakan kualitas pelaporan, mewacanakan pers yang tergerus oleh citizen journalism, sampai menyoal keterbukaan blog dan mengaitkannya dengan isu moralitas.
Pers, media "franchise"
Pers, seperti diungkapkan oleh penggagas public journalism Jay Rosen, sesungguhnya merupakan media franchise yang beroperasi dalam ruang sosial untuk melayani kepentingan publik. Dalam tradisi old school journalism, perslah yang selama ini menikmati privilege untuk mengumpulkan, mengelola, dan menyebarluaskan berita (informasi) kepada publik. Apesnya bagi jurnalisme konvensional, open source reporting membuka kemungkinan pengumpulan, pengelolaan, dan penyebarluasan berita di tangan publik atau khalayak. Khalayak, dengan kata lain, menjadi media franchise yang baru.
Kondisi ini jelas memunculkan lanskap kultural dan peta sosiopolitik baru. A new balance of power. Dan tentunya, perluasan (dan penyempitan) peluang ekonomi bagi pihak-pihak tertentu. Kalau biasanya, kompetitor media berasal dari sesama media (dalam sistem pers pasar bebas). Atau, berasal dari negara, pemerintah, atau rezim yang berkuasa (dalam bingkai sistem pers otoritarian). Kini, kompetitor media pers tidak lain adalah khalayaknya sendiri!
Ini situasi yang menyeramkan. Dalam ilmu bisnis, kalau user atau konsumen sudah tidak lagi membutuhkan jasa atau produk produsennya, pabrik bakal gulung tikar! Lantas, dalam konteks perkembangan citizen journalism, bagaimana masa depan media mainstream yang beroperasi dengan jurnalisme konvensional? Akankah terhapus dengan maraknya citizen journalism?
Eksistensi vs kredibilitas
Menjawab kekhawatiran media mainstream seputar eksistensinya di masa depan, mari simak kembali kehebohan yang terjadi saat koran muncul dengan penuh sensasi pada abad ke-18. Ada kekhawatiran, buku bakal tersingkir karena lewat koran orang bisa mendapatkan apa saja secara instan dan aktual. Coba telusuri pula perdebatan seputar broadcast journalism yang dikhawatirkan bakal memusnahkan media cetak. Nyatanya, buku tetap ada sampai sekarang, berevolusi bentuk, kemasan maupun isi, namun tetap punya ruang pasar.
Demikian pula dengan media cetak; koran, majalah, tabloid, newsletter, free magazine, zines. Semua berevolusi, saling menajamkan karakteristik dan khalayaknya, serta menyesuaikan diri dengan lifestyle yang semakin beragam. Namun, tak pernah hilang. Inilah janji teori konvergensi media.
Bagaimana dengan eksistensi wartawan? Jangan dulu bicara soal kredibilitas citizen journalist, atau mutu liputannya. Dalam ruang beritanya sendiri, masih sangat banyak wartawan yang menulis asal-asalan, bias dalam melaporkan fakta, merekayasa data, dan mengedepankan sensasi demi kejaran oplah atau peringkat. Wartawan, pendek kata, masih bergumul dengan isu menyoal kredibilitas dan objektivitas produknya sendiri. Lebih baik, benahi ini dulu sebelum mempermasalahkan produk dan wilayah lain.
Citizen journalist sendiri, kalau mau serius jadi pewarta warga yang beritanya ditanggapi dengan baik, tidak bisa asal-asalan mem-publish. Apa pun latar belakangnya, mereka perlu melengkapi diri dengan amunisi seorang jurnalis pada umumnya, kemampuan menulis, keteraturan berlogika, syukur-syukur bisa membangun integritas lewat komitmen pada publik.
Kalau tidak, siapa yang mau membaca beritanya, mengunjungi situsnya, apalagi menanggapi isunya. Sebuah situs yang memproklamasikan diri sebagai pengusung jurnalisme warga, tetapi tak pernah dikunjungi, tentu akan sunyi dan akhirnya mati dengan sendirinya. Kalau sudah begini, layakkah menyandang predikat jurnalisme warga?
Masih banyak tantangan lain bagi old school journalism maupun citizen journalism. Akan tetapi, perkembangan baru ini sesungguhnya baik bagi keduanya. Media mainstream ditantang untuk semakin meningkatkan kualitasnya, minimal mencari cara baru mendekatkan diri pada khalayak dengan mengangkat isu-isu publik dan meninggalkan narasi-narasi besar dengan jargon-jargon yang abstrak, nggak jelas.
Para pelaku, citizen journalist sendiri ditantang untuk mengolah isu mereka agar tidak menjadi curhat personal semata. The public becomes personal, the personal becomes the public. Keduanya diperlukan oleh publik. Bahkan, jika perjumpaan media mainstream dan citizen journalism dikelola dengan baik, keduanya dapat meningkatkan kualitas partisipasi publik dalam sistem demokrasi. Ini, saya pikir, yang paling penting.
Maka, tidak bisa tidak, ucapan yang pantas diberikan adalah "Selamat datang era citizen journalism, selamat datang pewarta warga!"***
Penulis, dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Unisba dan pegiat Bandung School of Communication Studies (BASCOMMS
Bookmark with:
Delicious
Digg
reddit
Facebook
StumbleUpon
opensubscriber is not affiliated with the authors of this message nor responsible for its content.
|