opensubscriber
   Find in this group all groups
 
Unknown more information…

e : ekonomi-nasional@yahoogroups.com 16 June 2009 • 9:16PM -0400

-:: Milist NB::- Fungsi 'Mailing List' .
by rifky pradana

REPLY TO AUTHOR
 
REPLY TO GROUP



Salah satu fungsi mailing list adalah saling share informasi yang
bisajadi informasi itu tidak terapresiasi oleh arus media utama (surat kabar, majalah,
televisi, radio, dsb) sehingga tergusur sebagai informasi pinggiran.

Bisajadi informasi itu berguna, bisajadi juga tidak berguna, itu sangat
tergantung dari minat dari masing-masing pembacanya. Namun prinsip ‘open mind’ seyogyanya tetap dikedepankan, karena
bisajadi kita tidak menyukai informasi itu karena seseuatu hal yang subbyektif
saja, misalnya informasi tidak sesuai dengan kemauan hati kita.

Jadi ?.. Apakah mau diberlakukan sensor ketat dengan arus informasi yang
terkendali sesuai dengan kehendak hati si pengendalinya, seperti gaya
represifme ‘santun’ ala zaman Orba ?.

Informasi yang terbuka akan membuka wawasan dan cara pandang, serta
mendewasakan diri kita bahwa ada orang lain yang berbeda pendapat dengan diri
kita.

Terkait dengan soal trend bahasan soal politik karena memang iklim
cuacanya lagi menjelang Pilpres, sesungguhnya informasi-informasi itu sangat
berguna untuk mengetahui jatidiri dari para kandidatnya, membuka sisi kelebihan
dan kelemahan dari masing-masing kandidat, sehingga para pemilih nantinya tak
lagi memilih dengan gaya seperti membeli kucing dalam karung yang hanya melihat
karung kemasannya saja.

Jadi ?. Enjoy aja, kadangkala memang ada informasi yang tidak sesuai
dengan yang seperti kita kehendaki, karena memang tak semua bisa sama pendapatnya.

Wallahualambishshawab.

***

Ada tiga mailing list (selanjutnya ditulis milis saja) besar
yang saya ikuti.

Masing-masing memiliki karakteristik berbeda dan segmen anggota yang
berbeda pula. Namun satu hal yang mirip-mirip, kesemua milis tersebut merupakan
“mata air” informasi yang tidak pernah kering.

Selalu saja ada informasi yang baru dan terkadang postingan yang muncul
tidak pernah kita baca di media arus utama.

Postingan-postingan itu terlihat seperti “catatan pinggir” dari suatu
peristiwa aktual yang sedang ramai diperbincangkan orang di luar, akan tetapi
hakekatnya terkadang pula postingan itu “catatan utama”-nya.

Mengapa ?. Lantaran si sumber (atau isyu) yang tengah diperbincangkan
adalah orang dalam anggota milis yang kita ikuti.

Disamping itu, kita tidak mungkin juga mengharap semua anggota milis
untuk membuat komentar terhadap sebuah postingan. Terlebih membuat postingan
yang baru. Betapa repotnya moderator untuk memoderasinya untuk ditampilkan ke
hadapan pembaca milis, jika itu dilakukan semua anggota milis.

Di milis besar lain yang saya ikuti, segendang-sepenarian pula
kondisinya. Setiap anggota milis memiliki motif berbeda-beda tatkala bergabung.
Serupa tapi tak sama, laksana adagium politik, tergantung “kepentingan”-nya.

Semua milis ibaratnya etalase toko. Postingan-postingan yang muncul
adalah produk dagangannya.

Moderator milis dapat kita andaikan sebagai pramuniaga toko. Sedangkan
pemilik saham toko adalah semua anggota milis tersebut. Karena itu tidak boleh
(dan memang demikian adanya) si moderator menganggap sebagai pemilik toko
tersebut.

Sebagai pemilik saham, anggota milis diperkenankan (namun tidak
diwajibkan) menitipkan barang dagangan berupa postingan di etalase toko untuk
dipajang. Untuk dijual dan dibeli pembaca (dengan gratis pula).

Sekaligus ia juga tidak diharuskan untuk membeli produk-produk lain
dari pembaca lain yang dipajang (membaca postingan) itu.

Perkara barang dagangan itu dibeli atau diapresiasi, itu soal selera
pembaca.

Barang-barang yang sedang laku dan menuai apresiasi biasanya barang
baru dan tengah diperbincangkan hangat konsumen.

Tidak berarti barang-barang lama dan terkesan antik juga tidak dibeli
konsumen. Selalu ada saja ceruk dalam suatu pasar bebas gagasan tersebut.

Sejatinya pula, kita tidak perlu kecil hati bila barang yang tengah
dijajakan tidak mendapat apresiasi pembaca. Sudah dilirik dan dibelai-belai
barang itu untuk dilihat mutu atau tidaknya saja patutlah disyukuri.

Ibaratnya produk dalam suatu etalase toko, semua barang yang dijajakan
pastilah terkadang ada yang bermutu atau ada yang cacat. Konsumen bebas pula
untuk mengapresianya. Yang bermutu kita apresianya sewajarnya, sedang yang
cacat juga kita apresiasi dengan cara sama.

Apabila apresiasi dari konsumen terhadap barang etalase itu dinilai
bermutu, janganlah si produsen menganggap bahwa produknya memang yahud dan
tiada bandingannya. Demikian pula terhadap pengapreasi yang mengkritik mutu
produknya, si produsen tidak perlulah balik mengkritik pedas si pengapresiasi.
Bisa jadi memang ada kecacatan tersembunyi yang dilihat pengapresiasi yang satu
namun tidak dilihat konsumen lainnya. Kita hendaknya tetap berpatokan bahwa
“konsumen adalah raja”.

Meminta maaf pada semua konsumen atau khususnya pengapresiasi tertentu
bahwa ada produknya yang memang cacat, bukanlah suatu hal tabu untuk dilakukan.
Justru dari situ akan tercipta suatu produk yang kian bermutu lagi.

Gagasan dalam postingan, seumpama produk yang tengah dipajang di
etalase toko tetap membutuhkan adanya apreasiasi dari pembelinya agar produk
itu semakin bertambah mutu dan bernilai mutiguna serta berharga tinggi.

Banyak produk tertentu sejatinya bermutu tinggi, namun belum tentu
berharga tinggi. Produk bermutu ini lantaran jarang mendapat apresiasi dari pembelinya.
Terkadang, si produsen itu juga tidak mau tahu dengan kapasitas dan produk yang
telah dikeluarkannya.

Yang penting masih kelihatan untung dan terus-menerus berproduksi…

Wallahualam Bi Shawab.

Artikel ini dapat dibaca di :
Mailing List itu Ibaratnya Etalase Toko!
http://public.kompasiana.com/2009/06/16/mailing-list-itu-ibaratnya-etalase-toko/

***


      

Bookmark with:

Delicious   Digg   reddit   Facebook   StumbleUpon

opensubscriber is not affiliated with the authors of this message nor responsible for its content.