opensubscriber
   Find in this group all groups
 
Unknown more information…

e : ekonomi-nasional@yahoogroups.com 12 October 2011 • 1:35PM -0400

[ekonomi-nasional] [Editorial] Jangan Lupakan Nasib Pendidikan Nasional
by ulfha

REPLY TO AUTHOR
 
REPLY TO GROUP



Jangan Lupakan Nasib Pendidikan Nasional
Rabu, 12 Oktober 2011 |Editorial Berdikari Online

Di negeri seribu satu masalah, seperti Indonesia, ada banyak masalah
besar yang selalu luput dari perhatian nasional. Salah satunya adalah
soal masa depan pendidikan dan kualitas masa depan generasi kita.

Membangun pendidikan nasional adalah mempersiapkan masa depan. Jika
pendidikan nasional kita saat ini mengalami kemunduran, maka masa depan
nasional kita tentu juga akan sangat suram, bahkan tidak bermasa depan.

Itulah yang terjadi saat ini: pendidikan nasional kita kian hari kian
terpuruk. Dunia pendidikan terus-menerus dibayangi sekelumit masalah;
biaya pendidikan yang makin mahal, infrastruktur dan sarana pendidikan
yang buruk, kualitas dan mutu pendidikan yang kian merosot, dan lain
sebagainya.

Menurut kami, ada beberapa hal penting yang mesti terperhatikan jika
pemerintah masih punya keinginan membangun pendidikan nasional.

Pertama, bagaimana pemerintah memastikan bahwa pendidikan nasional bisa
diakses atau terjangkau oleh seluruh rakyat. Ini sejalan dengan visi
nasional kita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dalam RAPBN 2011 yang dibacakan oleh presiden, anggaran pendidikan hanya
dipatok sebesar Rp 50,3 trilyun. Angka itu turun sebesar Rp1,5 triliun
dari anggaran tahun sebelumnya. Tetapi, menurut pemerintah, penurunan
itu tidak menjadi masalah karena sebagian anggaran kini didesentralisasi
ke daerah.

Pemerintah sudah membuat program wajib belajar 9 tahun, dan sekarang
sudah melangkah pada program belajar 12 tahun. Tetapi kita belum tahu
seperti apa capaian dari program belajar 9 tahun itu sendiri.

Persoalan penting lainnya: bagaimana pemerintah bisa menjamin pendidikan
ini bisa diakses oleh seluruh rakyat, sementara pemerintah sendiri
secara perlahan-lahan menyerahkan pendidikan nasional kepada mekanisme
pasar?

Kemudian, yang tidak kalah penting juga, bagaimana pemerintah
menuntaskan persoalan buta-huruf yang konon masih menyisakan 8,5 juta
orang.

Kedua, bagaimana pemerintah memastikan bahwa anak didik yang sudah masuk
ke dunia pendidikan tidak keluar karena berbagai alasan: biaya sekolah,
kekerasan, kondisi pengajaran yang buruk, dan lain-lain.

Di sini pemerintah dituntut untuk mencegah kenaikan biaya pendidikan
yang tiap tahun terjadi. Seringkali, karena tekanan ekonomi dan
kemiskinan, orang tua dari keluarga miskin menarik anak-anaknya dari
sekolah dan menyuruhnya bekerja demi menopang ekonomi keluarga.
Mengatasi persoalan semacam ini memang tidak gampang. Negara dituntut
untuk terus-menerus berperang melawan kemiskinan.

Masalah lainnya adalah soal bagaimana menciptakan iklim kondusif dalam
proses belajar-mengajar. Sekolah jangan lagi tampil seperti penjara,
tetapi harus didorong sedemikian rupa sehingga menarik dan merangsang
semangat belajar anak didik. Pemerintah juga tidak boleh mentolerir
berbagai bentuk kekerasan fisik dan verbal terhadap anak-didik.

Di sini ada kebutuhan untuk mendorong negara menyediakan makanan bergizi
untuk anak didik. Program semacam ini banyak dijalankan oleh
negara-negara di Amerika Latin.

Ketiga, bagaimana pemerintah memastikan bahwa sistim pendidikan nasional
bisa berkualitas dan membentuk manusia yang berkepribadian nasional. Ini
tentu saja bukan persoalan gampang. Tetapi ini sangat penting, jikalau
bangsa ini menginginkan generasi-generasi tangguh di masa depan.

Di sini peran dari kurikukum, metode belajar-mengajar, fasilitas belajar
(perpustakaan, laboratorium, komputer/internet, dll), dan lain-lain,
sangat diperlukan. Proses belajar-mengajar tidak boleh juga dimaknai
sempit, yakni hanya di sekolah, tetapi harus diperluas hingga belajar
kepada masyarakat dan lingkungan.

Di masa lalu, negara dianggap terlalu mencampuri urusan kurikulum
pendidikan dan hal itu dianggap negatif. Tetapi, ketika kurikulum
dilepaskan dari kontrol pemerintah, justru kepentingan pasarlah yang
juga sangat dominan. Ini menyebabkan kurikulum pendidikan sangat jauh
dari cita-cita membentuk manusia Indonesia yang berkarakter dan
berkepribadian nasional.

Anda dapat menanggapi Editorial kami di: redaksiberdikari@yaho...

http://berdikarionline.com/editorial/20111012/jangan-lupakan-nasib-pendi\
dikan-nasional.html
<http://berdikarionline.com/editorial/20111012/jangan-lupakan-nasib-pend\
idikan-nasional.html>




[Non-text portions of this message have been removed]


Bookmark with:

Delicious   Digg   reddit   Facebook   StumbleUpon

opensubscriber is not affiliated with the authors of this message nor responsible for its content.