opensubscriber
   Find in this group all groups
 
Unknown more information…

e : ekonomi-nasional@yahoogroups.com 15 October 2011 • 1:55PM -0400

[ekonomi-nasional] Krisis Kapitalisme Dan Dampaknya Di Indonesia
by ulfha

REPLY TO AUTHOR
 
REPLY TO GROUP



Liputan Diskusi Gerakan Nasional Pasal 33
Krisis Kapitalisme Dan Dampaknya Di Indonesia
Sabtu, 15 Oktober 2011 | Berdikari Online

Pertengahan Agustus lalu, seorang professor ekonomi dari New York
University, Nouriel Roubini, membuat pernyataan yang menggemparkan dunia
akademis saat diwawancara oleh The Wall Street Journal.

Nouriel Roubini, yang empat tahun lalu membuat prediksi yang akurat
tentang krisis global, menganggap teori Karl Marx sangat benar ketika
mengatakan bahwa "kapitalisme akan menghancurkan dirinya
sendiri".

Pernyataan itu sangatlah menggemparkan, sebab disampaikan oleh bukan
ekonom Marxist dan itu tersampaikan di sebuah koran borjuis paling
bergengsi. Roubini pun segera dituding sebagai komunis atau setidaknya
punya simpati kepada penulis "Das Capital" itu.

Pada tahun 2005, Thomas Friedman, seorang kolumnis di New York Times,
menerbitkan sebuah buku berjudul "The World Is Flat: A Brief History
of the Twenty-First Century". Friedman, yang mengikuti Kenichi
Ohmae, memproklamasikan "gejala pendataran dunia" menjadi satu
pasar global. Ia seperti mengikuti alunan suara Francis Fukuyama tentang
"akhir sejarah".

Pada kenyataannya: bukan alternatif kapitalisme yang berakhir, tetapi
kapitalisme itu sendiri yang terancam menjadi "sejarah".
Tiba-tiba, pada akhir 2007 lalu, sebuah permulaan dari krisis struktural
meluluh-lantakkan ekonomi "paman sam". Krisis itu makin
menghebat pada tahun 2008, dan malahan menyebar ke berbagai negara
Eropa, seperti Yunani, Spanyol, Portugal, Latvia, dan lain-lain.

Lalu, pada tahun 2010, IMF dan Bank Dunia mulai mengobarkan kembali
optimisme bahwa krisis sudah akan berakhir; ekonomi Amerika Serikat
mulai bangkit, lalu ekonomi global mulai tumbuh positif. Tetapi belum
kering mulut pejabat IMF dan Bank Dunia mengobarkan optimisme, tiba-tiba
krisis yang lebih besar kembali menghantam: krisis utang di Amerika
Serikat dan Uni-Eropa.

>>>

Menurut Samsul Hadi, ekonom dari Universitas Indonesia, krisis
kapitalisme global saat ini menandai kegagalan free-market. Ia, dengan
mengutip Joseph Stiglitz, ekonom peraih nobel itu, bahwa "the fall
of Lehman Brothers is a fall free-market capitalism".

Negara, yang sebelumnya dianggap biang-keladi kerusakan sistim ekonomi,
kembali dipanggil sebagai "penyelamat". Sedangkan pasar,
khususnya pasar finansial yang dibebaskan (unregulated), dianggap sumber
masalah.

"Dengan kejadian krisis global, kita melihat pasar menjadi sumber
masalah, sedangkan negara menjadi solusi. Negara didorong memberi
paket-paket stimulus," ujar Samsul Hadi saat menjadi pembicara dalam
diskusi "Krisis Ekonomi Global Dan Pasal 33" di Galeri Kafe,
Taman Ismail Marzuki, 12 Oktober 2011.

Bahkan, kata Samsul, ketika ekonomi dunia sudah terglobalisasi dan
terkoneksi satu sama lain, krisis ekonomi sebuah negara semakin sulit
dilokalisir. "Globalisasi atau dunia datar menjadi tidak
relevan," katanya.

Tetapi "negara sebagai solusi" juga tidak bisa terlalu
diharapkan. Pasalnya, kata ekonom dari Asosiasi Ekonomi Politik
Indonesia (AEPI) ini, negara juga menjadi bagian dari masalah
sebagaimana diperlihatkan dalam krisis utang di AS dan Yunani.

Yunani, dan juga Portugal, adalah dua negara dengan defisit belanja
publik paling tinggi dibandingkan negara-negara Eropa lainnya. Sedangkan
pengaruh gelembung spekulasi keuangan di kedua negara itu berskala
menengah dan kecil.

Sehingga mimpi Paul Krugman untuk menjadikan negara "sebagai kuda
tunggangan" untuk memancing "permintaan agregat" terbukti
bermasalah. Apa yang dimaksud sebagai "model China" oleh Paul
Krugman juga terkena dampak krisis.

"China itu sangat bergantung kepada ekonomi ekspor. Itu juga dialami
oleh ekonomi negara seperti Korea Selatan, Singapura, Malaysia, dan
Eropa Timur," tegas Samsul Hadi.

Sementara itu, Fadli Zon, salah satu pimpinan partai Gerindra,
kapitalisme sebagai sebuah `sistim yang gagal" sudah terjadi
sejak lama. Selain krisis ekonomi global saat ini, krisis ekonomi 1996/7
di Asia adalah juga buah dari `krisis kapitalisme global'.
"Krisis Asia itu juga disebabkan oleh adanya global capital
movement," terangnya.

Saat itu, katanya, pemicu krisis tidaklah sepenuhnya karena praktek
kolusi, korupsi dan nepotisme sebagaimana disuarakan ekonom neoliberal,
tetapi sebagian besar karena krisis ekonomi global yang dipicu oleh
global capital movement.

Dalam perspektif marxisme, krisis kapitalisme global saat ini sebetulnya
tanda-tandanya sudah muncul sejak tahun 1970an. kapitalisme memasuki
krisis mendalam akibat kontradiksi internalnya, yaitu antara nafsu
penciptaan keuntungan (profit) dari proses produksi dan realisasi
keuntungan (profit) dalam sirkulasi dan distribusi. Ini sering disebut
dengan krisis kelebihan produksi (over-produksi) dan kelebihan kapasitas
(over-kapasitas).

Saat itu, untuk mengatasi krisis itu, arsitektur kapitalisme global
mengajukan dua solusi: finansialisasi dan neoliberalisme. Finansialisasi
dijalankan dengan keterpisahan antara sektor finansial dan sektor real,
sehingga kapitalis mencetak keuntungan dari "kertas fiktif".
Sementara neoliberalisme dijalankan dengan mengintegrasikan ekonomi
nasional dalam sebuah pasar global, sebagai solusi atas krisis
over-produksi dan over-akumulasi dari negeri kapitalis maju.

Sekitar 95% aktivitas ekonomi saat ini adalah bersifat financial.
Sedangkan produksi, transportasi, dan penjualan hanya menempati angka
5%. Sudah begitu, seluruh aktivitas ekonomi keuangan ini berjalan tanpa
kontrol politik dan publik, sehingga mendorong dunia dalam sebuah krisis
ekonomi yang sangat buruk.

>>>

Seperti apa dampak krisis ekonomi dunia terhadap Indonesia?

Dalam dunia yang sudah terglobalisasi dan terkoneksi satu sama lain,
krisis yang menyerang suatu negara dengan sendirinya, baik langsung
maupun tidak langsung, akan menyebrang dan mempengaruhi ekonomi negara
lain.

Apalagi jika yang krisis adalah induk kapitalisme global, yaitu Amerika
serikat dan Eropa, tentu akan membawa pengaruh di negara-negara lain di
dunia. Pendek kata, `jika Amerika bersin, maka bukan cuma airnya
yang terkena ke muka kita, tapi juga penyakit demamnya.'

Bagi Samsul Hadi, dampak krisis global yang sudah mulai terasa di
Indonesia adalah turunya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 5%.
"Itu berarti ada penurunan transaksi, ada pelarian atau penarikan
modal.

Hanya saja, sektor finansial ini, jika mengacu pada data Kompas, hanya
dimasuki 311.000 pemain. Artinya, sektor ini tidak berhubungan langsung
dengan rakyat jelata.

Di mata Samsul Hadi, ancaman nyata terhadap ekonomi nasional justru
berasal dari dampak kerjasama FTA dengan China. "Sektor industri
kehilangan 20% lapangan kerja, kapasitas produksi nasional menurun
25%," ungkapnya.

Data Investor Daily, yang dikutip oleh Samsul Hadi, menyebutkan, hanya
empat bulan setelah FTA dengan China diberlakukan, impor mainan
anak-anak dari China meningkat 952%. Kemudian impor tekstil meningkat
menjadi 225%. Ini berarti meningkatnya kehilangan pekerjaan atau
pengangguran.

Dengan mengutip ekonom Belanda di masa lalu, Samsul Hadi menjelaskan
soal dualisme ekonomi Indonesia: (1) ekonomi yang terkoneksi dengan
kapitalisme global, dan (2) ekonomi rakyat yang subsisten.

Ini masih nampak sampai sekarang, seperti konfigurasi segelintir orang
yang sangat kaya dan bermain di pasar finansial dan 75% rakyat Indonesia
yang hidup di sektor informal. "Sektor informal ini sudah sangat
terbiasa untuk cari cara sendiri untuk hidup," tegasnya.

Dampak lainnya adalah turunnya ekspor Indonesia, khususnya untuk Amerika
Serikat dan Eropa. Akan tetapi, jika bercermin kepada pengalaman krisis
ekonomi 2008, dampaknya tidak terlalu terasa kepada rakyat banyak.

Penyebabnya: penopang utama pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi rakyat
sebesar 57%. Artinya, kata Samsul Hadi, rakyat banyak tidak terlalu
terkena dampak krisis ekonomi global 2008.

Itulah mengapa, dalam derajat tertentu, krisis kapitalisme global tidak
serta-merta membawa dampak seketika terhadap rakyat Indonesia. (Ulfa
Ilyas & Kusno)

http://berdikarionline.com/liputan-khu-sus/liputan-diskusi-gerakan-nasio\
nal-pasal-33/20111015/krisis-kapitalisme-dan-dampaknya-di-indonesia.html
<http://berdikarionline.com/liputan-khu-sus/liputan-diskusi-gerakan-nasi\
onal-pasal-33/20111015/krisis-kapitalisme-dan-dampaknya-di-indonesia.htm\
l>




[Non-text portions of this message have been removed]


Bookmark with:

Delicious   Digg   reddit   Facebook   StumbleUpon

opensubscriber is not affiliated with the authors of this message nor responsible for its content.