opensubscriber
   Find in this group all groups
 
Unknown more information…

e : ekonomi-nasional@yahoogroups.com 18 October 2011 • 11:46PM -0400

Bls: [ekonomi-nasional] [Editorial] Tinggalkan Neoliberalisme, Kembali Ke Pasal 33 UUD 1945
by Cepi Al Hakim

REPLY TO AUTHOR
 
REPLY TO GROUP



sesuai dengan UUD 45, perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan kekeluarga...
bentuk ekonomi yang diamanahkan adalah koperasi, sebagai soko guru perekonomian bangsa kita...koperasi sejati, seperti yg ada di negara kesejahteraan, skandinavia...ekonomi syariah saat ini hanya di jadikan topeng oleh kepentingan kapitalis saja, banyak bank-bank syariah tapi pola yg dikembangkan kapitalisme, menguntungkan kaum pemodal.....syariah saat ini hanya sekedar label saja....syariah yang mewarnai dan substansi sangat dibuthkan masyarakat dengan dampak yang jelas dibandingkan syariah yang sekedar barang dagangan saja, tetap semangat, salam hangat....



>________________________________
>Dari: Syukur M. (msyukur) <MSYUKUR@chev...>
>Kepada: ekonomi-nasional@yaho...
>Dikirim: Selasa, 18 Oktober 2011 15:32
>Judul: FW: [ekonomi-nasional] [Editorial] Tinggalkan Neoliberalisme, Kembali Ke Pasal 33 UUD 1945
>
>

>Solusi dari keseluruhan masalah dan krisis yang melanda Indonesia saat
>ini dan masa datang. Bukan hanya system ekonomi Syariah, tapi, penegakan
>Syariat Islam secara mutlak tanpa tawar menawar. Masalahnya lagi, kita
>mau atau tidak!!!!!!!
>
>-----Original Message-----
>From: ekonomi-nasional@yaho...
>[mailto:ekonomi-nasional@yaho...] On Behalf Of Desiana
>Sent: Monday, October 10, 2011 8:28 AM
>To: ekonomi-nasional@yaho...
>Subject: Re: [ekonomi-nasional] [Editorial] Tinggalkan Neoliberalisme,
>Kembali Ke Pasal 33 UUD 1945
>
>solusi lain juga kita bisa menerapkan Syariahlisme, sistem ekonomi yang
>berlandaskan syariah.  Terbukti dikrisis moneter tahun 98, perbankan
>yang
>menerapkan sistem ekonomi syariah tidak terpengaruh oleh krisis moneter
>tsb.
>
>Pada 7 Oktober 2011 19:56, ulfha <ulfha_raz@yaho...> menulis:
>
>> **
>>
>>
>> Tinggalkan Neoliberalisme, Kembali Ke Pasal 33 UUD 1945
>> Jumat, 7 Oktober 2011 | Editorial Berdikari Online
>>
>> Krisis ekonomi kembali berkecamuk di Amerika dan Eropa. Kali ini,
>> seperti dikatakan banyak ekonom, akan jauh lebih keras dan lebih hebat
>> dibanding krisis 2008 lalu. Pada September lalu, Dana Moneter
>> Internasional (IMF) sudah memperingatkan kemungkinan krisis finansial
>> global memasuki "fase lebih kritis".
>>
>> IMF sendiri membagi krisis ini dalam empat fase: (1) Dimulai dari
>krisis
>> suprime mortage pada tahun 2007 dan mengancam sistem perbankan, (2)
>> Krisis perbankan, dimana bank-bank melalui krisis sistemik dan
>menyebar
>> ke eropa, (3) krisis utang yang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa,
>> dan (4) krisis memasuki fase politis, dimana pemimpin-pemimpin politik
>> Eropa dan Amerika kesulitan mencapai konsensus untuk solusi finansial.
>>
>> Tetapi, jika menganalisa lebih dalam lagi, krisis sekarang ini tidak
>> semata-mata krisis finansial atau persoalan keuangan. Krisis ini
>sangat
>> mendalam dan sistemik, yang akarnya berasal dari sistim kapitalisme
>> global itu sendiri. Juga krisis ini tidaklah dimulai pada krisis
>> subprime mortage tahun 2007 lalu, tetapi sudah terjadi sejak tahun
>> 1970an.
>>
>> Sejak tahun 1970 kapitalisme memasuki krisis mendalam akibat
>kontradiksi
>> internalnya, yaitu antara nafsu penciptaan keuntungan (profit) dari
>> proses produksi dan realisasi keuntungan (profit) dalam sirkulasi dan
>> distribusi. Ini sering disebut dengan krisis kelebihan produksi
>> (over-produksi) dan kelebihan kapasitas (over-kapasitas). Harry
>Magdoff
>> dan Paul Sweezy, dua ekonom marxist di Monthly Review, menganalisis
>> krisis keuangan aspek tak terpisahkan antara kecenderungan monopoli
>> capital dan stagnasi.
>>
>> Untuk mengatasi dua krisis ini, kapitalisme mengambil dua jalan
>keluar:
>> finansialisasi dan neoliberalisme. Dengan finansialisasi, seorang
>> kapitalis dapat melipatgandakan keuntungan dalam waktu singkat. Dengan
>> mengklik mouse komputer, anda dapat memindahkan miliaran dolar di
>pasar
>> keuangan di seluruh dunia. Persoalannya, model ini memang bisa
>> menciptakan keuntungan dalam hitungan detik, tetapi tidak pernah
>> menciptakan nilai baru-hanya industri, pertanian, perdagangan dan
>> jasa yang menciptakan nilai baru.
>>
>> Hal itu mendorong keterpisahan antara sistem finansial dan ekonomi
>riil.
>> Karena finansialisasi sangat tergantung pada aksi spekulatif, maka
>tidak
>> mengherankan kalau sektor finansial hinggap dari satu gelembung ke
>> gelembung lainnya, dari krisis ke krisis.
>>
>> Sementara, dengan jalur neoliberalisme, kapitalis global mempromosikan
>> integrasi ekonomi global ke negeri-negeri semi-kapitalis,
>non-kapitalis,
>> atau pra-kapitalis. Ini dilakukan melalui liberalisasi perdagangan
>> barang dan jasa, dengan menghilangkan segala bentuk rintangan terhadap
>> mobilitas modal dan investasi asing. Dengan skema ini, mereka berharap
>> bisa membuang kelebihan produksi negara maju di pasar-pasar yang baru
>> dibuka di dunia ketiga, mengurangi biaya produksi dengan relokasi
>pabrik
>> ke dunia ketiga dan praktek politik upah murah.
>>
>> Tetapi, terbukti bahwa kedua jalan tersebut mengalami kegagalan,
>bahkan
>> telah membawa sistim kapitalisme global ke dalam krisis yang lebih
>> mendalam: bank kolaps, pemerintah menggunakan dana publik untuk
>> membailout bank-bank, rakyat kehilangan pekerjaan, dunia jatuh ke
>dalam
>> krisis mendalam, harga pangan dan sembako meroket, lalu letupan sosial
>> di berbagai tempat.
>>
>> Menjawab krisis ini, para pemangku kebijakan di eropa membentangkan
>dua
>> solusi temporer; penghematan atau stimulus. Jika mengikuti skenario
>> penghematan, seperti dianjurkan oleh lembaga keuangan global dan coba
>> dijalankan pemerintah AS dan eropa sekarang, maka terjadi pembongkaran
>> total terhadap berbagai bentuk kesejahteraan dan sistem jaminan
>sosial.
>> Kemiskinan dan pengangguran akan bertambah luas.
>>
>> Cara kedua, yakni stimulus, seperti yang dianjurkan oleh Paul Krugman,
>> ekonom penerima nobel itu, maka negeri-negeri kapitalis maju dipaksa
>> untuk mengeluarkan dana stimulus yang lebih besar guna menggerakkan
>> ekonomi real dan demikian terjadi "permintaan agregat".
>>
>> Dua solusi itu hanya soal waktu saja. Vijay Prashad, seorang professor
>> di Trinity College, Hartford, Connecticut, USA, menganggap bahwa
>> solusi penghematan akan membebankan krisis sepenuhnya di tangan
>rakyat,
>> sedangkan stimulus hanya akan menjadi ilusi sementara ala Keynesian.
>>
>> Neoliberalisme, bahkan kapitalisme, sudah tidak lagi memberi kita
>> gambaran masa depan. Sebagai sebuah bangsa yang punya cita-cita besar,
>> yaitu masyarakat adil dan makmur, kita tidak mungkin menyandarkan
>> pencapaian cita-cita itu kepada sebuah sistem yang sudah terbukti
>gagal.
>> Oleh karena itu, sudah waktunya bangsa Indonesia berani meninggalkan
>> neoliberalisme.
>>
>> Lalu, apa solusinya: para pendiri bangsa sebetulnya sudah menitipkan
>> sebuah cara mengorganisir ekonomi yang baik dan bisa memakmurkan
>rakyat,
>> yaitu pengorganisasian ekonomi menurut pasal 33 UUD 1945.
>>
>> Dengan menerapkan pasal 33 UUD 1945, misalnya, maka perekonomian akan
>> disusun sebagai usaha bersama berdasar azas kekeluargaan. Ini jelas
>> bertentangan dengan neoliberalisme, juga kapitalisme, yang
>mengharuskan
>> kompetisi bebas dan kemakmuran untuk segelintir orang.
>>
>> Dengan pasal 33 UUD 1945 juga, cabang-cabang produksi yang penting dan
>> menguasai hajat hidup orang banyak bisa dikuasai negara dan
>dipergunakan
>> untuk kemakmuran rakyat. Ini jelas merupakan antitesa terhadap model
>> ekonomi neoliberal sekarang, dimana cabang-cabang produksi yang
>penting,
>> termasuk layanan publik yang sifatnya dasar, diserahkan kepada swasta
>> dan menjadi objek menggali keuntungan.
>>
>> Lalu, jika pasal 33 UUD 1945 diterapkan, kita bisa berdaulat terhadap
>> kekayaan alam kita dan mempergunakannya demi kemakmuran rakyat. Selama
>> ini kekayaan alam hanya dikeruk oleh pihak swasta (nasional dan asing)
>> untuk kemakmuran mereka, sedangkan rakyat Indonesia menerima kerugian
>> besar berupa perampasan tanah, pelanggaran HAM, dan kerusakan
>> lingkungan.
>>
>> Anda dapat menanggapi Editorial kami di: redaksiberdikari@yaho...
>>
>>
>http://berdikarionline.com/editorial/20111007/tinggalkan-neoliberalisme-
>\
>>
>kembali-ke-pasal-33-uud-1945.html<http://berdikarionline.com/editorial/2
>0111007/tinggalkan-neoliberalisme-kembali-ke-pasal-33-uud-1945.html>
>>
><http://berdikarionline.com/editorial/20111007/tinggalkan-neoliberalisme
>\
>>
>-kembali-ke-pasal-33-uud-1945.html<http://berdikarionline.com/editorial/
>20111007/tinggalkan-neoliberalisme-kembali-ke-pasal-33-uud-1945.html>
>> >
>>
>> [Non-text portions of this message have been removed]
>>
>>
>>
>
>[Non-text portions of this message have been removed]
>
>------------------------------------
>
>Ingin bergabung ke milis ekonomi-nasional?
>Kirim email ke ekonomi-nasional-subscribe@yaho...
>http://capresindonesia.wordpress.com
>http://infoindonesia.wordpress.com
>FB: http://www.facebook.com/pages/Ekonomi-Merdeka/142825502416243Yahoo!
>Groups Links
>
>
>
>
>

[Non-text portions of this message have been removed]


Bookmark with:

Delicious   Digg   reddit   Facebook   StumbleUpon

opensubscriber is not affiliated with the authors of this message nor responsible for its content.