opensubscriber
   Find in this group all groups
 
Unknown more information…

f : forum-pembaca-kompas@yahoogroups.com 19 November 2008 • 12:03PM -0500

Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Rekonsiliasi, Pansus G30S/PKI dan Pansus Ken Arok
by Boni Triyana

REPLY TO AUTHOR
 
REPLY TO GROUP




Setuju dengan Mas Budiman,

Bangsa ini emang aneh, sungguh aneh. Waktu Soeharto pensiun,  seluruh pelanggaran kemanusiaan semasa ia jadi presiden diungkapkan. Tapi kroni-kroninya yang sekarang nyaru bilang "Pak Harto itu banyak jasanya, kita harus menghormati ia. Bagaimana pun dia pernah memimpin bangsa ini".

Lantas ketika upaya menyeret Pak Harto ke pengadilan makin kencang, lagi-lagi kroni-kroninya bilang "Sudahlah, itu sudah masa lalu, jangan ingat-ingat lagi. Mari kita menatap ke depan".

Waktu Pak Harto sakit, Jusuf Kalla, wapres kita dan Ketua Golkar bilang: "kita harus memaafkan Pak Harto, bagaimana pun dia pernah berjasa buat bangsa ini".

Ketika dia meninggal, beberapa hari kemudian terdengar suara dari pihak Golkar untuk menjadikan Pak Harto Pahlawan. Sama dengan 10 bulan kemudian, waktu hari Pahlawan, PKS dan Golkar  menyebut ia sebagai pahlawan. Kalau perlu diangkat jadi pahlawan nasional.

Logikanya begini: orang bersalah = harus dibuktikan kesalahannya lewat pengadilan. Orang berjasa = harus dapat reward, mungkin salah satunya disebut pahlawan.

Pak Harto belum pernah masuk pengadilan. Tapi sekarang kok udah diributkan untuk jadi pahlawan.

Giliran ngomongin punishment aje, semua kroninya keder, takut keseret-seret. Pas bagian ngomongin reward yang harus diberikan kepada Pak Harto, eh...semua berlomba-lomba kepingin menyalonkan dia jadi pahlawan nasional.

Menurut saya, biar adil, udahlah, kenang Pak Harto sebagaimana adanya saja, tidak secara berlebihan. Betul, dia itu manusia biasa, punya dosa dan jasa. Jadi, supaya adil buat kita semua, kenanglah dia sebagai presiden saja. Jangan pencilakan pake nyalon-nyalonin jadi pahlawan.

Bagaimana????

Tabik,

Bonnie Triyana


--- On Tue, 18/11/08, Budiman Sudjatmiko <budiman.repdem@yaho...> wrote:
From: Budiman Sudjatmiko <budiman.repdem@yaho...>
Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Rekonsiliasi, Pansus G30S/PKI dan Pansus Ken Arok
To: Forum-Pembaca-Kompas@yaho...
Date: Tuesday, 18 November, 2008, 11:11 PM











            Biasanya istilah 'Rekonsiliasi' tidak berdiri sendiri. Ia selalu didahului dgn istilah 'Kebenaran' sebelum kata 'Rekonsiliasi' , artinya:

Sebelum rujuk, maka para pihak terkait akan bertutur di hadapan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, tentang apa saja yang mereka lakukan di mas a lampau.

Artinya, si pelaku bersaksi atau mengakui: berapa orang yg telah dia bunuh, dia perkosa atau dia culik, di mana dia kuburkan korban-korbannya (sehingga keluarga si korban punya kesempatan memakamkannya kembalis ecara wajar atau, setidaknya, menziarahinya) , siapa yang memerintahkan semua itu dsb.

Nah setelah pengakuan ini diungkapkan, si pelaku tidak dipidana atas perbuatannya tersebut, melainkan karena proses rekonsiliasi ia DIMAAFKAN (karenanya tak dihukum) tetapi TAK DILUPAKAN (artinya semua pengakuan itu didokumentasikan sebagai dokumen resmi negara, sebagai rujukan agar perbuatan yang sama tak diulangi lagi).

Dokumen tsb, di Argentina berisi pengakuan2 para pelaku dan juga korban yang berhasil selamat hidup2 dari periode Perang Kotor di era rejim militer (termasuk di dalamnya pengakuan sejumlah perwira tentara tentang bagaimana mereka membawa korban-korban penculikan dgn mata tertutup menaiki helokopter dan menerbangkannya kemudian menjatuhkannya ke lautan Atlantik hidup2 dgn mata si korban tertutup).

Di Argentina, semua pengakuan tadi didokumentasikan dgn judul NUNCA MAS, yang artinya JANGAN PERNAH TERULANG...

Kalau sekarang di sini orang bicara rekonsiliasi saja, tak berani bicara perlunya kebenaran. Sehingga agak aneh dan manipulatif.

Sebenarnya kita pernah punya komisi yang mengatur hal tersebut, namun oleh MK Undang-Undang KKR tersebut dibatalkan atas pengajuan KH Yusuf Hasyim dan penyair Taufik Ismail yang menganggap bahwa KKR adalah dipakai utk 'mebangkitkan kembali PKI'

So....? Kita memang tak pernah bisa dewasa sebagai bangsa, meminta rekonsiliasi tapi tak mau kebenaran.

Dulu enak (karena bisa membunuh dan menculik), sekarang juga mau-nya enak: rekonsiliasi ! (tapi gak pernah jelas apa duduk perkaranya krn tak ada kebenaran yg diungkap).

Jadi ini bukan soal dendam, melainkan soal ayah dan ibu yang kehilangan anak, anak kehilangan orang tua, kakak yang mencari adiknya yang tak kunjung pulang 10 tahun, paman kehilangan kemenakan, istri kehilangan suami...Bagi orang-orang ini, sanak saudara mereka yang hilang TAK PERNAH JADI MASA LALU, karena hilangnya mereka adalah hingga kini (tanpa pernah tahu masih hidup kah atau tidak)



wassalam



Budiman Sudjatmiko

has been travelling from the republic of fear to the republic of cowardice�


Bookmark with:

Delicious   Digg   reddit   Facebook   StumbleUpon

Related Messages

opensubscriber is not affiliated with the authors of this message nor responsible for its content.