Rekan-Rekan FPK,
Saya pernah melihat suatu acara di Metro TV (Today's Dialogue?) di mana KKG mempersoalkan mengapa harga BBM dipatok di harga minyak dunia dan mengatakan seharusnya harga BBM dalam negri dijual dengan metode HPP + ongkos distribusi + profit. Menurut saya, kelemahan metode perhitungan KKG adalah beliau tidak memperhitungkan biaya investasi. Profit yang diberikan pada investor (baca: perusahaan minyak) harus cukup besar (memadai) agar investor tersebut tetap melakukan investasi pada sektor hulu migas. Hal itulah yang sulit dilakukan oleh Pertamina, karena keuntungan yang diperolehnya harus disetor sebagai deviden kepada Pemerintah. Kalau ingin Pertamina makin maju, seharusnya deviden jangan disetor, tapi digunakan untuk investasi supaya Pertamina bisa bersaing dengan Perusahaan Minyak Asing.
Artinya minyak yang diproduksi Pertamina juga harus dinilai dengan harga pasar, supaya Pertamina bisa terus berinvestasi.
Konsep ini sudah umum dilakukan di dunia. Contoh paling gres adalah Rusia membuka cadangan minyaknya di Kutub Utara bagi BP (perusahaan minyak asing/Inggris). Lengkapnya:
http://www.reuters.com/article/idUSTRE70F1K220110116?loomia_ow=t0:s0:a49:g43:r1:c0.200000:b41031244:z0
Kutipannya adalah sbb:
"For Russia to maintain production at or above 10 million barrels per day, the investments required are huge. Decline rates in West Siberia are very steep and projects in East Siberia are fairly limited," said Amrita Sen, a commodity analyst at Barclays.
The deal, under which BP and Rosneft will explore for offshore oil in the Kara Sea, is a departure from Kremlin policies which had made offshore fields unavailable for foreigners.
Jadi Pemerintah Rusia (Kremlin) saat ini malah bergeser dari kebijakan sebelumnya yang melarang ladang minyak lepas pantai (offshore) untuk diakses oleh Asing, menjadi memperbolehkan BP untuk akses di Kara Sea. Hal ini karena Rusia membutuhkan INVESTASI. Rusia sudah punya Rosneft tapi tetap butuh INVESTASI ASING demi mempertahankan produksi minyaknya di level 10 juta barel per hari.
Dan tentunya BP (atau perusahaan minyak asing lainnya) bisa tertarik bergabung kalau harga jual minyaknya dihitung berdasarkan HARGA PASAR.
Bagi yang mendukung naiknya (atau setidaknya tidak turun lebih lanjut) PRODUKSI MINYAK INDONESIA, dukunglah HARGA PASAR. Tapi harga BBM Dalam Negri tetap diSUBSIDI (termasuk Pertamax nantinya harus disubsidi juga).
Best Regards,
Rudyanto
It is pretty clear that there is not much chance of finding any significant quantity of new cheap oil. Any new or unconventional oil is going to be expensive
--- In
Forum-Pembaca-Kompas@yaho..., Zulkifli Harahap <zulk_har@...> wrote:
>
> Bagi rekan-rekan yang mengetahui alamet surel KKG, mohon tulisan ini dikirim kepadanya agar dia memahami mengapa pemerintah tidak menjual BBM sedikit di atas Rp550 (kalau tidak salah) yang menurutnya merupakan harga pokok penjualan untuk BBM Indonesia. Dalam hal perbbman, KKG merupakan salah satu dari sekian provokator dan tidak mau memahami tulisan Faisal Basri di Kompas beberapa tahun lalu yang mengatakan era minyak murah sudah berakhir di Indonesia.
>
> Salam,
>
> Zul
>
>
> -----Original Message-----
> From: rudyanto_nebeng <
no_reply@yaho...>
> Sender:
Forum-Pembaca-Kompas@yaho...
> Date: Sat, 15 Jan 2011 06:11:19
> To: <
Forum-Pembaca-Kompas@yaho...>
> Reply-To:
Forum-Pembaca-Kompas@yaho...
> Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: harga BBM
>
> Rekan-Rekan FPK,
>
> Inilah jadinya kalau kita melihat sepotong-sepotong. Rakyat bayar, bayar, dan bayar.
>
> Yang tidak dilihat adalah berkat harga pasar itu, Pemerintah memperoleh PENDAPATAN dengan patokan harga pasar. PENDAPATAN itu nantinya yang dikembalikan lagi ke rakyat dengan BELANJA negara melalui departemen-departemen. Artinya kalau patokan tidak mengikuti harga pasar, PENDAPATAN otomatis berkurang, ujung-ujungnya dana pembangunan berkurang.
>
> Mari kita cermati ALIRAN UANG-nya.
>
> Jadi selain harus jujur, juga harus LENGKAP, supaya tidak berat sebelah.
>
> Kalau Pertamina yang ngebor sendiri sumur minyaknya, bolehlah kita bilang harga patokannya = harga hpp + profit. Masalahnya tidak semudah itu, eksplorasi minyak itu beresiko dan padat modal. Kalau Pertamina ngebor 100 sumur minyak kemudian tidak ketemu juga minyaknya, siapa yang nanggung kerugian? Apa perlu dimasukkan dalam HPP? Rumit kan?
>
> Jadi biarkan saja siapapun yang berani tanggung resiko, untuk ngebor minyak. Jadi kalau akhirnya asing yang berani, karena Pertaminanya yang tidak berani. Tentunya kalau resiko tinggi tapi harganya dipatok harga tertentu, siapa yang mau ngebor. Resiko tinggi, tapi pendapatan dipatok harga tertentu. Biarkan saja dinilai dengan harga pasar, sudah sesuai resikonya, toh Pemerintah juga dapat penghasilan tapi tidak tanggung resiko. Makin tinggi harga pasarnya, makin banyak yang tanggung resiko.
>
> Mengingat sekarang harga minyak dunia (harga pasar tentunya) sedang melonjak, tentunya harga Pertamax ikut naik karena tidak disubsidi. Yang dipersoalkan pak Haniwar (saya menyimak koq :) ) adalah kenapa Pertamax (Ron 92) bisa lebih mahal dibanding Ron 95 Malaysia. Dan saya jawab karena RON 95 Malaysia disubsidi. Oleh karena itu, mari kita berpikir progresif saja: PERTAMAX DISUBSIDI pada harga 7000 Rupiah. Tentunya tidak bisa semurah RON 95 Malaysia, karena toh Malaysia juga tidak subsidi Premium koq (memang tidak ada jenis premium di sana). Pengendara Mobil juga manusia (punya rasa, punya hati :) ), perlu subsidi juga, tapi tentunya tidak sebesar pengendara motor dan angkutan umum.
>
> Dengan melihat kondisi harga minyak dunia yang terus bandel bergejolak, ini saatnya kita mulai beralih dari minyak ke energi lain seperti mobil hybrid dan mobil listrik serta Pemerintah harus menetapkan standar MPG (Mile Per Gallon) atau Kilometer Per Liter dari produksi mobil seperti yang dilakukan Pemerintah AS.
> Lengkapnya :
>
http://www.google.com/hostednews/ap/article/ALeqM5i2YitVQIJRBssIHu2s0xjAcnGKRw?docId=865c96a225634368a4f92eed4bcd0892&loc=interstitialskip
>
> Best Regards,
> Rudyanto
> The era of cheap oil is over. Each barrel of oil that will come to market in the future will be much more difficult to produce and therefore more expensive. We all... should be prepared for oil prices being much higher than several years ago.
>
opensubscriber is not affiliated with the authors of this message nor responsible for its content.