opensubscriber
   Find in this group all groups
 
Unknown more information…

m : mediacare@yahoogroups.com 6 September 2006 • 6:57PM -0400

[mediacare] Re: [jurnalisme] jangan salahkan bonek!!!
by billy von daperste

REPLY TO AUTHOR
 
REPLY TO GROUP






Sekali lagi kalau mau jujur, suporter mana sih di
Indonesia ini yang enggak mengamuk saat timnya kalah.
Jika mas anshor mengamati perkembangan supoter di
Indonesia, mungkin hanya Aremania yang paling
terorganisir dan terdidik secara kelompok. Meski kasus
jelek kelakuan Aremania tiap jumpa Persebaya tak akan
pernah lekang dari ingatan saya. Salah satu pemain
Persebaya pernah mengalami kebutaan pada matanya
akibat diketapel Aremania.

Namun melihat pertandingan kemarin, Aremania oleh
banyak kalangan pemerhati sepak bola sudah bisa tertib
saat Persebaya main di Kanjuruhan Malang, meski
lemparan botol minuman tetap ini. Ini yang saya paling
tidak mau dianggap "sudah tertib" jika masih ada
lemparan botol minuman. Lemparan apa pun bendanya
tetap bukan indikasi ketertiban suporter.

Celakanya di Eropa pun masih ada yang seperti itu.
Sampeyan tentu ingat saat Luis Figo pertama kali
berbaju Real Madrid setelah pindah dari Barcelona.
Begitu Madrid main di Camp Nou, ada lemparan kepala
babi saat Figo mengambil sepak pojok. Tapi apa yang
dilakukan otoritas La Liga, Barcelona dan suporternya
dihukum. Pertandingan berikutnya, hanya siutan dan
makian terhadap Figo. Tidak ada lagi lemparan kepala
babi ke lapangan.

Kembali ke Indonesia, semua suporter klub sepak bola
Divisi Utama, kampungan. Bukan hanya bonek saja.
Perbedaannya hanya pada militansi. Jika Sakerahmania
(suporter Persekabpas Kabupaten Pasuruan) hanya berani
bawa celurit di Stadion Pogar Bangil. Tapi di luar
pasuruan cuma bisa teriak-teriak. Bonek tidak seperti
itu. Justru penamaan Bonek menandakan mereka bukan
jago kandang. Mereka berani ngluruk hingga Jakarta.

Jika LA Mania (Suporter Persela Lamongan) berani main
pentung kalau nonton di Stadion Surajaya Lamongan.
Bonek bawa pentungan sepanjang jalan Surabaya, Gresik,
hingga Lamongan. Mau tahu suporter di luar Jawa. Mac'z
Man (kelompok suporter fanatik PSM) punya militansi
yang hampir sama dengan Bonek. Mereka bawa ketapel
berisi paku yang diracuni kala PSM main di Gelora Bung
Karno di babak delapan besar musim lalu (2005).

Tapi kalau sudah main di Stadion Mattoangin, jangankan
kendaraan pribadi, bus yang membawa pemain tim lawan
pun berani mereka bakar. Mau yang lebih gila lagi.
Datanglah sekali waktu liat pertandingan Persiba
Balikpapan di kandangnya. Pemain Arema punya
pengalaman buruk dengan kelakukan supporter dan
pengurus Persiba. Pernah pemain Arema disel di
Poltabes Balikpapan gara-gara berselisih paham dengan
penonton Persiba saat latihan. Gila kan? Mau tanding
besok, hari ini disel.

Ini belum kalau cerita soal wasit ditusuk di Wamena
atau hujan batu yang dulu sering terjadi di Ternate.
Kebrutalan suporter bukan monopoli tim dari Indonesia
Timur saja.

Sekali waktu, mas anshor juga boleh melihat langsung
kelakuandua kelompok suporter besar PSMS Medan, Smeck
(ini singkatan dari Suporter Medan Cinta Kinantan) dan
Kampak (singkatan dari Kelompok Anak Medan Pecinta
Ayam Kinantan). Mereka punya cerita yang agak unik.
Jika PSMS bermain jelek, mereka sebenarnya cukup fair
dengan memberi dukungan pada tim lawan.

Tapi soal kelakuan anarkis, jangan heran kalau mereka
sebenarnya sama saja dengan Bonek. Sepeda motor yang
parkir di halaman Stadion Teladan, tak bakal aman jika
PSMS kalah. Militansi mereka sama dengan Bonek. Polisi
dianggap musuh yang selalu bertindak kasar pada
suporter. Akibatnya, perang lempar batu kadang terjadi
dengan polisi di luar stadion.

Dan di Jawa, militansi anarkisme ala Bonek, bukan
mutlak punya suporter asal Jawa Timur, provinsi yang
menyumbang klub divisi utama paling banyak di Liga
Indonesia. Bergeser ke Jawa Tengah, anda akan dapati
permusuhan abadi antara suporter Panser Biru (PSIS)
dengan suporter Persijap Jepara. Rivalitas Joglo Semar
(Jogja, Solo, Semarang) jadi rivalitas, Panser Biru,
Pasoepati (Solo) dan Brojomusti (PSIM). Cermati saja
nama mereka. Nama-nama serem yang berhubungan dengan
kosakata "PERANG". Jadi mas Anshor, saran saya, jangan
nonton di Stadion Mandala Krida kalau PSIM lagi
tanding lawan PSIS, terus anda dapat tiket di tribun
terbuka. Kecuali kalau anda ingin merasakan dilempari
batu.

Jawa Barat, lain lagi ceritanya. Tapi kalau bicara
bagaimana rasanya menonton di tribun terbuka Stadion
Siliwangi, baru anda bisa tidak menyalahkan anarkisme
Bonek semata dalam kasus kerusuhan di Tambaksari.
Kalau cermat membaca berita olahraga, tentu ingat
bagaimana Mayor Jendral (purn) I Gusti Kompyang
Manila, mantan kepala sekolah STPDN Jatinangor yang
juga mantan Manajer Persija Jakarta, kena lemparan
(maaf) tahi manusia dibungkus plastik yang tepat pecah
di kepala sang manajer. Bukan lagi batu, tapi tahi dan
kotoran manusia pula. Siapa pula pelakunya kalau bukan
suporter fanatik Persib.

Meski di Siliwangi, ada tiga kelompok suporter dengan
militansi yang berbeda-beda. Viking yang terkenal
paling militan dan tetap menjaga permusuhan dengan
suporter Persija (The Jakk) hingga saat ini, kemudian
ada Robocop, akronim dari Rombongan Bobotoh Kopo
(salah satu daerah di Bandung), Balad Persib, Jurig,
Superman dan nama-nama lain yang bakal anda temui
kalau duduk di tribun terbuka Stadion Siliwangi saat
Persib bertanding. Selain kotoran manusia tadi,
suporter Persib paling jago dalam soal lempar melempar
air kencing (manusia tentunya). Jadi kalau takut
terkena najis, ya jangan pernah nonton di Stadion
Siliwangi.

Bergeser ke Barat, Laskar Viola (suporter Persita
Tangerang) sampai sekarang tak pernah mau akur dengan
The Jakk. Jadi tiap kali Persita bertemu Persija, yah
jalanan di sekitar Stadion Benteng siap-siap saja jadi
ajang perang batu.

Sekali lagi mas Anshor, kebrutalan suporter di
Indonesia hampir mirip dengan korupsi. Terjadi
dimana-mana. Mengapa bisa terjadi, karena regulator
kompetisi macam PSSI dan Badan Liga Indonesia (BLI)
memang memeliharanya. Sanksi dari Komisi Disiplin
hanya biar mantes-mantesin aja. Dendanya, tak pernah
dilaporkan duitnya dipakai untuk apa dan disimpan di
rekening siapa. Korupsi??? Nah ini yang mestinya
dibongkar KPK, karena putaran nilai uang satu musim
itu mencapai triliunan rupiah.

Komisi Bandingnya? Mereka tak pernah bersidang. Yang
menentukan justru staf PSSI di komisi banding.
Akibatnya, setiap klub bisa melakukan negosiasi.
Kesimpulannya, kerusuhan suporter justru dipelihara
PSSI biar mereka punya kerjaan dan dapat penghasilan
sampingan.

Mas Anshor, bicara soal penggeledahan sebelum suporter
masuk, ritual ini adalah janji polisi sebelum
pertandingan dimulai. Ritual yang sama misalnya
diucapkan berulang-ulang oleh jajaran Poltabes Medan
tiap kali PSMS mau tanding di Stadion Teladan. Bahkan
mereka melarang tiap minuman kemasan dalam bentuk
botol masuk ke stadion. Tapi yah lemparan terus
menerus terjadi. Kalau enggak pake minuman kemasan
dalam bentuk gelas, yah serpihan dinding atau alas
tembok stadion.

Aparat ini kan menjaga sesuai dengan jatah uang PAM
yang diberikan panpel. Yah maklumi saja keterbasan
mereka jika di Stadion Tambaksari, beberapa di
antaranya malah suka menjual karcis masuk yang sengaja
tidak disobek. Tidak percaya? Mungkin bisa cross cek
dengan wartawan olahraga asal Surabaya yang aktif di
milis ini.

Konvoi di Jalan Darmo yang dilakukan Bonek dan
menerobos arus lalu lintas. Ini bukan monopoli
suporter fanatik Persebaya. Coba sekali-kali anda liat
Viking (yang motonya Persib ataoe Mati!) berkonvoi
tiap kali Persib usai bertanding. Kalau menang
konvoinya biasa-biasanya saja. Biasa dalam arti mereka
melanggar lalu lintas tapi tidak merusak properti
publik. Nah kalau kalah, pot kembang di Jalan Asia
Afrika tempat kepala negara di Asia Afrika jalan-jalan
waktu Konferensi Asia Afrika, rusak semua.

Bonek selalu dapat tudingan kesalahan dengan eskalasi
paling berat karena memang sejarah militansi mereka.
Namun sekali lagi militansi suporter bukan semata
milik Bonek.

Seperti pemerintahan di negara ini, PSSI juga tak
pernah punya kepastian hukum. Segalanya bisa ditawar.
Jangan heran kalau masuk jadi pengurus PSSI itu
rebutan. Pengurus yang tak kepake memaki pengurus yang
masih aktif, demikian juga nanti kalau yang sekarang
ga jadi pengurus, mereka juga gantian akan dimaki oleh
mantan pengurus. Sampeyan bisa cermati omongannya
Tondo Widodo (dia ini mantan Kabid Organisasi PSSI).
Mana ada suara Tondo yang bagus tentang kepengurusan
Nurdin Halid. Lah zaman Nurdin dulu masih jadi Manajer
PSM, dia paling kenceng nuding PSSI disogok biar
Bandung Raya juara Liga Indonesia.

Di PSSI gaji enggak ada (kecuali karyawannya), tapi
kalau arek suroboyo bilang, sripilannya gueeddeee rek!
Dimana sripilan itu bisa didapat, yah dari memelihara
kerusuhan suporter. Caranya, dengan tak pernah tegas
menegakkan pedoman dasar PSSI atau merubah sana-sini
aturan dasar berorganisasi. Cara lain, yah
kongkalikong dengan manajer atau pengurus klub.

Kembali ke suporter di Indonesia, beberapa kelompok
sudah meninggalkan polah kampungan mereka. Aremania
berada pada urutan pertama. Mereka terorganisir dengan
baik dan punya unit usaha yang bisa dibanggakan oleh
anggotanya. Kreativitas mereka nomor satu. Banyak
kelompok suporter belajar dari Aremania.

Tapi sekali lagi, Aremania bukan tanpa cacat. Main
lempar botol minuman masih kerap dilakukan mereka jika
Arema tanding lawan musuh bebuyutan seperti Persebaya
atau tim tetangganya, Persema Malang. Satu lagi kisah
nyata kebrutalan Aremania. Saat itu bertanding Persema
vs Persebaya di Stadion Gajayana Malang pada ajang
Piala Gubernur Jatim tahun 2005. Ada beberapa orang
suporter Persebaya yang nekat datang ke Gajayana. Di
tengah bertandingan, mereka yang tidak berulah ini,
tiba-tiba ketahuan sebagai suporter Persebaya.
Akibatnya, mereka hancur babak belur layaknya maling
yang tertangkap basah di pasar. Padahal beberapa di
antara mereka hanya murid SMP. Siapa pelakunya,
mungkin bukan Aremania, tetapi yang jelas suporter
asli Malang. Jadi Aremania sekali lagi bukan tanpa
cacat.

Setelah Aremania, dalam hal kreativitas dan
berorganisasi, harus diacungi jempol adalah The Jakk,
Viking, Pasoepati, Panser Biru, Persik Mania, Kampak
hingga Bonek. Kreativitas dan cara mereka
berorganisasi jempolan. Mirip organisasi kepemudaan.
Tapi kalau bicara anarkisme, mereka masih tetap
melakukannya.

Level berikutnya mungkin Mac'z Man, Laskar Viola,
Smeck, hingga suporter Sriwijaya FC, Semen Padang,
atau Deli Serdang. Mereka kreatif juga, tetapi
massanya tak terlalu banyak. Stadion Mattoangin bisa
penuh oleh Mac'z Man tapi kalau bertandang, jarang ada
suporter PSM ini yang mau ngikutin timnya.

Yang levelnya paling parah ya suporter Persekabpas.
Gimana ga parah kalau ke stadion bawa celurit. Bukan
hanya tim lawan yang dilempari mereka, tapi juga
wartawan foto yang meliput di pojok lapangan. Ngeri
kan? Berada pada level ini juga LA Mania. Mereka ini
suporter-suporter dadakan yang timnya tiba-tiba berada
pada tingkat paling elit kompetisi negeri ini. Nah
karena pantauan saya juga terbatas, mungkin kelompok
suporter di Indonesia Timur juga masuk ke level ini.

Oh ya mas Anshor, jangan sinis begitu ke Bonek dengan
mengatakan ga perlu bicara ilmiah dengan mereka. Saya
toh bondho nekat juga, tapi mau kok membuka ruang
diskusi dengan mas Anshor dan kawan-kawan milis ini.

tabik
semua bonek bersaudara!!!
bvd


--- anshor muhammad <anshor.bocgases@yaho...> wrote:

> nggak bisa bilang sistim yang membuat bonek ngamuk.
> Bukankah jauh sebelum ada pertandingan sudah banyak
> mobil-mobil yang penyok gara-gara dipukul kayu sama
> bonek? Berbicara tentang regulasi pertandingan harus
> dengan kaum yang berbicara dengan otak mereka.
> Sedang bonek, tidak pernah bicara dengan bahasa
> ilmiah. Jika pergi ke stadion sudah bawa batu dan
> kayu (seperti yang diungkap Kapolresta Surabaya
> Timur, saat penggeledahan awal) motivasi apa yang
> bonek bawa ke stadion? tentunya motivasi untuk
> melampiaskan hal-hal yang tidak bisa
> dipertanggungjawabkan. Lihatlah kelakuan mereka di
> jl Raya Darmo dengan mengendarai motor berkonvoi
> melawan arus. Melanggar lampu lalu lintas, memukuli
> mobil yang notabene sudah minggir untuk memberi
> jalan. Bagi saya apa yang dilakukan bonek adalah
> murni "MENEBAR TEROR!!" Mereka adalah
> teroris-teroris lokal. Jika tidak pernah ada upaya
> hukum yang tegas dengan digebuk (sebagaimana polisi
> menggebuk pendemo yang menuntut ditegakkannya hukum,
> ham dll)
>  maka selamanya para teroris ini akan menyebarkan
> aksi terornya.
>
>
>  
>  
>
> [Non-text portions of this message have been
> removed]
>
>
>
>


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com





Web:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Klik:

http://mediacare.blogspot.com

atau

www.mediacare.biz

Untuk berlangganan MEDIACARE, kirim email kosong ke:
mediacare-subscribe@yaho...

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    mediacare-unsubscribe@yaho...

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/




Bookmark with:

Delicious   Digg   reddit   Facebook   StumbleUpon

opensubscriber is not affiliated with the authors of this message nor responsible for its content.