opensubscriber
   Find in this group all groups
 
Unknown more information…

m : mediacare@yahoogroups.com 29 June 2007 • 12:52AM -0400

Re: [mediacare] Pujiku kepada Ramalan Ronggowarsito
by as as

REPLY TO AUTHOR
 
REPLY TO GROUP






Yang dimaksud Ronggowarsito dengan zaman edan itu adalah zaman yang dialami oleh Ronggowarsito sendiri.
Pada zaman itu, korupsi sudah mulai ada di kalangan para pejabat kraton.

Jadi itu bukan ramalan.

Hanya saja, zaman edan sekarang ini lebih gila daripada zaman edannya Ronggowarsito dahulu.

Harry Adinegara <sans_culotte_30@yaho...> wrote:                                  
  

  

  Puji ke Ronggowarsito, sampeyan telah menyelamatkan aku si ikan kecil ini dari malapetaka.
  
  Kenapa tidak........? Beberapa tahun lalu aku diajak ber-mitra oleh konco-ku untuk membangun perkebunan, rencananya perkebunan  segala macam buah2an di Indonesia. Sudah di diskusikan tempat2 mana yang dengan mudah bisa akses dengan mempertimbangkan jarak tempat tinggal dan perkebunan.
  
  Tapi sekarang membaca adanya ramalan Ronggowarsito yang bilang kalau sebenarnya Indonesia saat ini sudah memasuki era-nya negara yang di-urus dan di huni oleh orang2 edan.Maka  tak berlebihanlah  kalau aku bilang betapa untungnya aku tidak  ikut2an ber-mitra edan2nan di Indonesia.
   Rupanya kalau aku bilang kalau negara kita sudah dalam keadaan deldel duwel itu rupanya masih ringan ketimbang  Ronggowarsito yang bilang negara Indonesia negaranya orang edan.
  
  Apa bisa sembuh ya kalau orang sudah edan selama 62 tahun-nan lebih ?
  Sekarang dua golongan orang edan sedang ber-silaturahmi. Tujuannya untuk memenangkan pemilu orang2 edan di tahun 2009. Gawat bener nih. Bila sampai kesampaian tujuan ini, kedua golongan besar orang edan berkuasa maka sudah tamatlah negara ini. Dua golongan yang sudah berstatus sebagai golongan edan tingkat gawat bermitra mengurus negara deldel duwel.
  
  Terima kasih Ronggowarsito, puji2ku kepadanya!
  
  Harry Adinegara
    
  
  

  
      



  
  
  


    

                              http://www.sinarharapan.co.id/berita/0706/27/opi01.html
     Tanda–tanda Ramalan Ronggowarsito
    

Oleh
Benny Susetyo PR

Melihat fenomena sosial akhir-akhir ini bisa dikatakan saat ini kita berada di zaman yang tidak normal (abnormal). Kalau mengikuti ungkapan Ronggowarsito, akan
datang satu zaman yang disebut sebagai zaman edan, benarkah saat ini kita sudah berada di zaman itu? Di zaman edan siapa yang tidak edan tidak kebagian.
Orang waras dianggap tidak waras, tapi penjahat negara dianggap sebagai pahlawan. Walaupun begitu, menurut Ronggowarsito, sebaik-baik orang di zaman edan adalah mereka yang ingat dan waspada (eling lan waspadha).
Di zaman abnormal, semua akan berkebalikan dengan yang normal. Jika normalnya di negeri tani sesubur  Indonesia, masyarakatnya tidak antre beras dan minyak goreng, maka di zaman tidak normal bahkan masyarakat tani pun antre beras.
Di zaman tidak normal, semua serba tidak jelas ukuran kemajuannya. Ukuran yang dipakai adalah ukuran dari dirinya sendiri. Perilaku tidak obyektif karena tergantung dari selera pasar. Kalau pasar sedang berselera hidup antikorupsi, maka semua orang akan berbicara antikorupsi meskipun perilakunya sendiri sungguh-sungguh korup.
Tanda-tanda zaman seperti ini sudah mulai
menjadi wajar. Ikatan kesejatian tidak lagi menjadi bagian hidup dalam menciptakan kebersamaan. Kesejatian hidup meluntur seiring dengan menguatnya hasrat orang untuk berjuang demi dirinya sendiri.
Egoisme manusia mengalahkan semua perasaan senasib dan seperjuangan. Kita dididik dalam situasi di mana ”aku mengalahkan maka aku ada”. Siapa kalah siapa menang. Siapa kamu siapa aku. Sapa sira sapa ingsun. Solidaritas yang terbentuk merupakan solidaritas semu, karena  terbentuk bukan sikap saling menghargai sesama (kemanusiaan) melainkan aspek kepentingan praktis.
Kecenderungan yang terjadi dalam perekonomian bangsa ini juga merupakan kesemuan belaka. Pertumbuhan ekonomi katanya meningkat, anehnya tidak mampu mengurangi pengangguran terus meningkat, dan daya beli dan hidup rakyat yang semakin lemah. Katanya angka kemiskinan berkurang, nyatanya kehidupan rakyat semakin sengsara akibat ketahanan hidup yang makin melemah.

Tidak Jelas
Modus kriminalitas yang
semakin bervariasi akhir-akhir ini, lihatlah, sering disebabkan oleh masalah-masalah ”harga diri” sepele. Anak membunuh orang tua, orang tua membunuh anak, sesama saudara sekandung saling berbunuhan. Semakin ngeri melihat fenomena sosial seperti ini. Jika demikian, sudah tepatlah ramalan Ronggowarsito tentang zaman edan itu.
Pertumbuhan ekonomi semakin menaik tetapi tak mampu menetes ke bawah untuk orang miskin. Orang miskin semakin tak berdaya menghadapi beban  hidup yang terus meningkat. Semua kegemilangan itu seolah-olah hanya menjadi hak tidak lebih dari 2 persen penduduk, dan yang 98 persen itu hidup dalam himpitan krisis yang begitu dahsyat.
Logika akal sehat kita sudah tidak bisa memahani mengapa hal ini dianggap wajar. Logika keadilan kita runtuh. Semangat hidup bersama dalam suasana keadilan tidak lagi menjadi bagian dari cara berpikir, bertindak dan bernalar. Semua serba dibuat tidak jelas aturan mainnya. Semua dipermainkan oleh logika politik yang hanya
mengejar setoran. Seolah-olah ada namun tiada dan sebaliknya.
Politik berada di bawah bayang-bayang kekuasaan para pemodal hitam. Mereka bekerja begitu licin sampai tidak terungkap gerak-geriknya, walau semua orang merasakan kekuatannya. Publik mampu mencium bau tidak sedap di mana orang-orang dalam kekuasaan bermain dengan jurus lobi-lobi. Semua tidak terlihat, tapi nyata ada.
Pemberantasan korupsi katanya menjadi inti reformasi, nyatanya di era  reformasi orang berkorupsi justru makin banyak dan makin canggih cara-caranya. Hal-hal seperti inilah yang membuat orang yang normal menjadi stress. Mereka selalu bertanya mengapa harus terjadi seperti ini.
Mereka berpikir bahwa seharusnya hukum, politik, pendidikan, ekonomi, budaya, media dan lainnya seperti ini, nyatanya seperti itu. Paradoks-paradoks seperti inilah yang terjadi di zaman abnormal, atau mungkin zaman edan seperti kata Ronggowarsito.

Berharap pada Institusi
Ujian nasional yang jelas-jelas
melanggar undang-undang                       http://www.sinarharapan.co.id/berita/0706/27/opi01.html
     Tanda–tanda Ramalan Ronggowarsito
    

Oleh
Benny Susetyo PR

Melihat fenomena sosial akhir-akhir ini bisa dikatakan saat ini kita berada di zaman yang tidak normal (abnormal). Kalau mengikuti ungkapan Ronggowarsito, akan
datang satu zaman yang disebut sebagai zaman edan, benarkah saat ini kita sudah berada di zaman itu? Di zaman edan siapa yang tidak edan tidak kebagian.
Orang waras dianggap tidak waras, tapi penjahat negara dianggap sebagai pahlawan. Walaupun begitu, menurut Ronggowarsito, sebaik-baik orang di zaman edan adalah mereka yang ingat dan waspada (eling lan waspadha).
Di zaman abnormal, semua akan berkebalikan dengan yang normal. Jika normalnya di negeri tani sesubur  Indonesia, masyarakatnya tidak antre beras dan minyak goreng, maka di zaman tidak normal bahkan masyarakat tani pun antre beras.
Di zaman tidak normal, semua serba tidak jelas ukuran kemajuannya. Ukuran yang dipakai adalah ukuran dari dirinya sendiri. Perilaku tidak obyektif karena tergantung dari selera pasar. Kalau pasar sedang berselera hidup antikorupsi, maka semua orang akan berbicara antikorupsi meskipun perilakunya sendiri sungguh-sungguh korup.
Tanda-tanda zaman seperti ini sudah mulai
menjadi wajar. Ikatan kesejatian tidak lagi menjadi bagian hidup dalam menciptakan kebersamaan. Kesejatian hidup meluntur seiring dengan menguatnya hasrat orang untuk berjuang demi dirinya sendiri.
Egoisme manusia mengalahkan semua perasaan senasib dan seperjuangan. Kita dididik dalam situasi di mana ”aku mengalahkan maka aku ada”. Siapa kalah siapa menang. Siapa kamu siapa aku. Sapa sira sapa ingsun. Solidaritas yang terbentuk merupakan solidaritas semu, karena  terbentuk bukan sikap saling menghargai sesama (kemanusiaan) melainkan aspek kepentingan praktis.
Kecenderungan yang terjadi dalam perekonomian bangsa ini juga merupakan kesemuan belaka. Pertumbuhan ekonomi katanya meningkat, anehnya tidak mampu mengurangi pengangguran terus meningkat, dan daya beli dan hidup rakyat yang semakin lemah. Katanya angka kemiskinan berkurang, nyatanya kehidupan rakyat semakin sengsara akibat ketahanan hidup yang makin melemah.

Tidak Jelas
Modus kriminalitas yang
semakin bervariasi akhir-akhir ini, lihatlah, sering disebabkan oleh masalah-masalah ”harga diri” sepele. Anak membunuh orang tua, orang tua membunuh anak, sesama saudara sekandung saling berbunuhan. Semakin ngeri melihat fenomena sosial seperti ini. Jika demikian, sudah tepatlah ramalan Ronggowarsito tentang zaman edan itu.
Pertumbuhan ekonomi semakin menaik tetapi tak mampu menetes ke bawah untuk orang miskin. Orang miskin semakin tak berdaya menghadapi beban  hidup yang terus meningkat. Semua kegemilangan itu seolah-olah hanya menjadi hak tidak lebih dari 2 persen penduduk, dan yang 98 persen itu hidup dalam himpitan krisis yang begitu dahsyat.
Logika akal sehat kita sudah tidak bisa memahani mengapa hal ini dianggap wajar. Logika keadilan kita runtuh. Semangat hidup bersama dalam suasana keadilan tidak lagi menjadi bagian dari cara berpikir, bertindak dan bernalar. Semua serba dibuat tidak jelas aturan mainnya. Semua dipermainkan oleh logika politik yang hanya
mengejar setoran. Seolah-olah ada namun tiada dan sebaliknya.
Politik berada di bawah bayang-bayang kekuasaan para pemodal hitam. Mereka bekerja begitu licin sampai tidak terungkap gerak-geriknya, walau semua orang merasakan kekuatannya. Publik mampu mencium bau tidak sedap di mana orang-orang dalam kekuasaan bermain dengan jurus lobi-lobi. Semua tidak terlihat, tapi nyata ada.
Pemberantasan korupsi katanya menjadi inti reformasi, nyatanya di era  reformasi orang berkorupsi justru makin banyak dan makin canggih cara-caranya. Hal-hal seperti inilah yang membuat orang yang normal menjadi stress. Mereka selalu bertanya mengapa harus terjadi seperti ini.
Mereka berpikir bahwa seharusnya hukum, politik, pendidikan, ekonomi, budaya, media dan lainnya seperti ini, nyatanya seperti itu. Paradoks-paradoks seperti inilah yang terjadi di zaman abnormal, atau mungkin zaman edan seperti kata Ronggowarsito.

Berharap pada Institusi
Ujian nasional yang jelas-jelas

pendidikan (yang dahulu dibela mati-matian) justru dilakukan. Amendemen konstitusi tidak
elit politik. Tetapi mereka tidak memiliki telinga untuk mendengar jeritan itu. Telinga mereka tersumbat oleh aliran modal. Mulut mereka tidak lagi bisa menyuarakan hati nurani karena sudah tergadai oleh kepentingan uang.
Inilah yang membuat korupsi bertumbuh subur. Korupsi di Republik ini seolah-olah dijamin oleh hukum. Tentu hukum yang  tidak normal. Orang yang normal berteriak-teriak, ”Tegakkan hukum!”, dan yang mau ditegakkan tidak mau menegakkan dirinya sendiri. Kita berada dalam hidup yang penuh dengan kebuntuan. Kita buntu berpikir mengenai kesejatian hidup.
Kini yang ada hanya harapan yang penuh kepalsuan. Ini zaman yang tidak normal di mana yang normal dianggap tidak normal, dan yang tidak normal dianggap sebagai normal. Kita tidak sadar bahwa sebenarnya kita hidup di zaman yang tidak normal, tetapi terus-menerus berpikir seperti orang normal.

Penulis adalah pendiri Setara Institute dan Sekretaris Komisi HAK KWI.  
  
  
  
  
     Messages in this topic (1) Reply (via web post) | Start a new topic
     Messages
    
---------------------------------
  Yahoo!7 Mail has just got even bigger and better with unlimited storage on all webmail accounts. Find out more.
              

---------------------------------
Yahoo!7 Mail has just got even bigger and better with unlimited storage on all webmail accounts. Find out more.

    
                      

      
---------------------------------
Looking for a deal? Find great prices on flights and hotels with Yahoo! FareChase.

Bookmark with:

Delicious   Digg   reddit   Facebook   StumbleUpon

Related Messages

opensubscriber is not affiliated with the authors of this message nor responsible for its content.