Kantor Berita Common Ground
Mitra Kemanusiaan
Bagi Hubungan Muslim-Barat yang Saling Asah, Asih, Asuh
30 Nopember - 06 Desember 2007
Jika halaman ini tidak tampil sebagaimana mestinya, klik di sini.
Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews - MK) bertujuan mendorong perspektif dan dialog konstruktif yang berkaitan dengan hubungan Muslim-Barat. Layanan ini juga tersedia dalam bahasa Arab, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Urdu, dan bahasa Prancis. Untuk berlangganan, klik di sini.
Untuk arsip artikel CGNews dan informasi lainnya, silahkan kunjungi website kami: www.commongroundnews.org.
Kecuali jika ditentukan khusus, ijin hak cipta telah diperoleh dan semua artikel bisa dipublikasikan kembali oleh media massa atau surat kabar. Silahkan memberitahukan kepada sumber artikel asli dan Kantor Berita Common Ground (CGNews).
Dalam edisi ini 1) Menjembatani Bisnis, Menjembatani Dunia oleh Hiam Nawas
Dalam artikel kelima tentang bisnis patungan Muslim-Barat ini, Hiam Nawas, seorang spesialis Timur Tengah dan hukum Islam, menjelaskan bagaimana usaha-usaha patungan teknologi tinggi, akademis, dan keuangan lintas benua dapat menjadi sebuah pendorong bagi "pembauran kebudayaan" dan memiliki "dampak-dampak mendalam terhadap masyarakat-masyarakat yang memiliki kedisharmonisan budaya atau agama".
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 27 Nopember 2007)
2) Iraq in The Time of Cholera oleh César Chelala
César Chelala, seorang konsultan kesehatan masyarakat internasional dan koresponden asing bagi Middle East Times International, membahas dampak-dampak terkait kesehatan yang menghancurkan dari perang terhadap rakyat Irak dan para prajurit AS. Mengingat berjangkitnya kolera di Irak dan ketiadaan sebuah sistem layanan kesehatan yang terstruktur, Kelala menguraikan berbagai penyelesaian untuk menanggapi krisis kesehatan yang luar biasa ini.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 27 Nopember 2007)
3) ~Pandangan Kaum Muda~ Hidup dalam Gelembung di Lebanon oleh Raisa Batakji
Raisa Batakji, seorang mahasiswi jurusan komunikasis Lebanon American University in Beirut, menilai keragaman iklim kebudayaan Lebanon tempat "politik dan sektarianisme
selalu saling terkait". Dengan menekankan perlunya interaksi lebih banyak antara beragam golongan etnik, agama dan politik, Batakji menyarankan cara untuk membantu kaum muda Lebanon melangkah keluar dari "gelembung" mereka masing-masing.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 27 Nopember 2007)
4) Kekuatan Ide Buruk oleh Tom Plate
Tom Plate, seorang anggota Burkle Center for International Relations dan kolumnis sindikat jurnalisme, membahas kekuatan ide buruk ide bahwa Islam tidak sesuai dengan demokrasi untuk memotivasi pribadi-pribadi, seperti mantan wakil perdana menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, untuk menyuarakan apa yang sesungguhnya bisa membuat pemerintah dan agama sesuai.
(Sumber: Korea Times, 19 Nopember 2007)
5) Belajar dari Bangsa Indonesia oleh Sana Rizwan Farid
Dalam konteks peristiwa tragis di Masjid Merah awal tahun ini, Sana Rizwan Farid, seorang analis di Georgetown University, membandingkan madrasah-madrasah Pakistan dengan pesantren Indonesia dan membuat rekomendasi-rekomendasi bagi pembaruan sekolah-sekolah keagamaan Muslim di Pakistan.
(Sumber: Dawn, 4 Nopember 2007)
1)Menjembatani Bisnis, Menjembatani Dunia
Hiam Nawas Washington, DC - Bisnis sering menjadi katalis bagi pembauran kebudayaan dan terbukti mampu memberikan dampak mendalam terhadap masyarakat yang memiliki kedisharmonisan budaya dan agama. Secara keseluruhan, interaksi yang dihasilkan dari hubungan-hubungan komersial memberikan dampak-dampak positif jangka panjang, yang membawa pada rasa pengertian yang baik, dan kadang kala, penerimaan, terhadap berbagai kebudayaan, kebiasaan, dan tradisi asing.
Keberhasilan usaha patungan dalam merekatkan hubungan AS-Eropa Barat selama tahun 1950-an dan 1960-an seperti kemitraan KLM dengan Delta Air Lines menunjukkan potensi positif mereka di antara bangsa-bangsa yang berpola pikir serupa. Berbagai jenis usaha patungan ini memperkuat hubungan yang sudah ada antara Amerika Serikat dan Eropa Barat, juga memberikan dorongan lebih besar bagi NATO, yang punya andil terhadap pengurangan ancaman Komunis domestik di sejumlah negara-negara Eropa Barat, termasuk Prancis dan Italia. Selain sangat militeristik dan anti-Soviet, NATO juga kerap disebut-sebut telah memperkuat nilai-nilai dan tradisi-tradisi kebudayaan yang sama di antara negara-negara anggotanya, juga menyuntikan ideologis AS.
Contoh yang lebih baru dan dalam konteks yang lebih antagonistis, usaha-usaha patungan Cina-Amerika telah memainkan peran kunci mengurangi perbedaan ideologis yang telah lama ada antara kedua adikuasa tersebut, yang mendorong pembaruan hubungan berdasarkan kepentingan-kepentingan bersama: perdagangan bebas dan keberhasilan ekonomi global.
Perusahaan-perusahaan seperti Wal-Mart, misalnya, telah menjadi ujung tombak kecenderungan geopolitik ini, dengan menyediakan pasar yang siap menerima barang-barang Cina, sehingga mempengaruhi tingkat perdagangan negara tersebut. Ia tak hanya membantu Cina memasuki pasar luar negeri baru, tetapi juga menguntungkan para konsumen Amerika yang mendapatkan murah barang-barang Cina.
Ada dampak yang sering diabaikan dari usaha-usaha patungan tersebut pengaruh yang mereka miliki terhadap masing-masing masyarakat. Pada dasarnya, mereka merupakan kendaraan lain bagi diplomasi dan hubungan baik. Memang, usaha patungan dalam bentuk apapun tidak menjamin perdamaian dan stabilitas, khususnya dalam situas-situasi ketika rasa permusuhan sangat tinggi. Tetapi, mereka memiliki potensi untuk memanusiakan "liyan" dan dapat menjembatani perbedaan-perbedaan politik ketika kepentingan-kepentingan penting ekonomi terancam.
Misalnya, ketika dinamika yang mendasari negara-negara di Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation CouncilGCC) dan Barat (Eropa dan AS) memiliki perbedaan yang sangat besar dengan hubungan Eropa BaratAS, usaha-usaha patungan antara Barat dan negara-negara GCC memiliki saham bagi kesejahteraan perekonomian AS dan Eropa. Hal ini terutama terjadi melalui penanaman modal langsung dan tidak langsung GCC di kedua sumber kekuatan ekonomi tersebut. Stabilitas dan kesejahteraan ekonomi di Barat sama dengan kembalinya modal secara kuat dan sehat bagi berbagai investasi GCC.
Dalam usaha-usaha patungan yang lebih berteknologi tinggi, modal lokal sering dipadukan dengan pengetahuan teknologi. Satu contoh yang terkait dengan hal ini adalah industri medis. rumah-rumah sakit terkemuka seperti Klinik Cleveland, Klinik Mayo, Johns Hopkins, Harvard, dan yang lainnya telah terlibat dalam usaha patungan dengan negara-negara GCC dan membuka rumah sakit di wilayah setempat.
Contoh utama lain dari keberhasilan usaha patungan terletak dalam bidang akademis. Universitas-universitas Yordania dan GCC terlibat dalam perjanjian pertukaran dengan lembaga-lembaga pendidikan tinggi AS dan Eropa.
Universitas-universitas Amerika telah berinvestasi besar-besaran dalam usaha patungan di Timur Tengah, yang tak hanya menciptakan saluran-saluran bisnis, tetapi juga sebuah pengalaman pendidikan bersama bagi masyarakat akademis Barat dan Timur Tengah. Kemitraan dengan Yayasan Qatar dan Virginia Commonwealth University (VCU) School of Arts merupakan sebuah contoh yang tepat tentang bagaimana usaha patungan sejenis itu menawarkan sebuah kesempatan langka pada para mahasiswa Teluk untuk mempelajari pendekatan-pendekatan Barat dalam bidang rancang dan fasion tanpa harus meninggalkan negara mereka.
Usaha patungan VCU dengan Yayasan Qatar, dan usaha-usaha serupa dengan pusat-pusat bahasa di penjuru Timur Tengah, menciptakan lapangan-lapangan keahlian, yang tanpa kerjasama itu tak akan tersedia bagi mahasiswa-mahasiswa lokal, khususnya dalam bidang-bidang yang sangat diminati perempuan, seperti seni rupa, tata panggung, rancang busana, dan keperawatan. Kesempatan-kesempatan ini penting, terutama demi pemberdayaan kaum perempuan dan pertumbuhan masyarakat madani yang progresif dan hidup, yang tidak diragukan lagi merupakan faktor-faktor utama yang mempengaruhi pembentukan proses demokratis.
Walaupun hubungan sebab dan akibat ini mungkin tidak jelas kelihatan atau memberikan keuntungan-keuntungan jangka pendek, nilai strategis jangka panjang usaha patungan memberikan manfaat bagi kedua negara yang bermitra. Usaha patungan sendirian tidak akan menyelesaikan perbedaan-perbedaan politik yang rumit dan strategis, tetapi mereka benar-benar membantu memperluas kerjasama yang tentu didahului oleh kehendak politik.
Contoh dalam hal ini adalah kebijakan-kebijakan yang diambil oleh Uni Emirat Arab (UEA), yang telah bekerja keras untuk menjadi pusat keuangan internasional, sambil mencoba mengendalikan lingkungan regional yang sulit. Fokus terhadap bisnis dan perdagangan ini telah memberikan keuntungan dibuktikan oleh fenomena Dubai, dan telah menghasilkan peningkatan penanaman modal asing langsung dan relokasi beberapa perusahaan dan individu Barat ke Dubai. Hubungan bisnis ini telah menciptakan mata rantai baru antara UEA dan mitra-mitra Barat-nya, membangun niat baik dan sebuah forum bagi komunikasi berkelanjutan.
Bahkan dalam perairan hubungan AS-Iran yang sangat bermasalah, usaha-usaha bisnis dapat memungkinkan terbukanya kesempatan kecilbukan untuk sanksi ekonomi yang sekarang diterapkan AS terhadap Iran dengan menjembatani kesenjangan-kesenjangan politik dan ideologis, serta melibatkan orang-orang dari kedua negara. Interaksi bisnis memberikan sebuah peluang bagi hubungan manusia dan kolaborasi ekonomi, terlepas dari kurangnya kehendak politik pada kedua negara tersebut untuk benar-benar berdialog kedua negara, saat ini.
Walaupun usaha patungan bukan merupakan penyelesaian jangka pendek atau obat bagi semua isu politik dan sosial yang rumit, mereka telah menunjukkan pintu yang terbuka antara berbagai budaya dan menciptakan kemitraan manusia yang memiliki dampak-dampak abadi dan positif terhadap hubungan antara negara, bahkan terhadap mereka yang terlibat konflik berkepanjangan.
###
* Hiam Nawas, seorang Amerika Yordania, yang telah tinggal dan bekerja di berbagai negara di Timur Tengah, berspesialisasi dalam hubungan Timur Tengah dan hukum Islam. Artikel ini merupakan bagian dari serial bisnis patungan Muslim-Barat, disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground, dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.
Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 27 Nopember 2007, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta. 2)Iraq in The Time of Cholera
César Chelala New York Inilah berita yang ditakutkan semua orang akan terjadi. Berjangkitnya kolera di Irak, yang dimulai di dua propinsi bagian utara, telah mencapai Baghdad dan telah menjadi wabah kolera terbesar Irak dalam kurun waktu terakhir. "Situasi ini sangat menakutkan dan berbahaya," demikianlah pernyataan Bahktiyar Ahmed, seorang fasilitator darurat kesehatan UNICEF, yang bekerja untuk menekankan bahayanya ancaman tak pandang bulu tersebut bagi mereka yang menderita karena hancurnya sistem layanan kesehatan.
Angka statistik Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa ada lebih dari 3.300 kasus kolera dan lebih dari 33.000 kasus diare di negara tersebutyang bisa merupakan bentuk ringan dari penyakit tersebut. Epidemi kolera memperburuk keadaan kemanusiaan dan darurat kesehatan masyarakat paling serius, diukur dari sudut manapun.
Menurut Jeremy Hobbs, direktur Oxfam International, "Kekerasan mengerikan di Irak telah menutupi krisis kemanusiaan yang terus terjadi. Kekurangan gizi di kalangan anak-anak meningkat pesat, sementara layanan-layanan dasar yang hancur oleh perang dan sanksi bertahun, tidak dapat memenuhi kebutuhan rakyat Irak. Jutaan rakyat Irak telah terpaksa melarikan diri dari kekerasan, jika bukan ke wilayah lain di Irak, maka ke luar negeri. Kebanyakan mereka hidup dalam kemiskinan yang mengerikan."
Diperkirakan 28 persen anak-anak kekurangan gizi, padahal sebelum serbuan 2003 hanya 19 persen . Pada tahun 2006, lebih dari 11 persen bayi lahir dengan berat kurang, bandingkan dengan tahun 2003 yang hanya empat persen. Kekurangan gizi memberi sumbangan terhadap kematian dari berbagai kondisi lain seperti infeksi pencernaan dan pernafasan, malaria dan tifus.
Kurangnya makanan tidak hanya menyerang anak-anak. Diperkirakan sekitar empat juta rakyat Irak 15 persen dari seluruh penduduk tidak dapat membeli cukup makanan bagi kebutuhan sehari-hari, dan kini bergantung pada bantuan pangan.
Penderitaan anak-anak tidak berakhir di sana. Tahun lalu, Asosiasi Psikolog Irak (API) mengeluarkan sebuah laporan yang menyatakan bahwa serangan pimpinan AS sangat mempengaruhi perkembangan psikologis anak-anak Irak.
Juru bicara Asosiasi tersebut, Maruan Abdulah, menyatakan, "Kekuatan hasilnya sungguh luar biasa. Hal-hal yang ada dalam benak anak-anak hanyalah senjata, peluru, kematian, dan rasa takut terhadap pendudukan AS." Apa yang dapat orang katakan kepada mereka yang bertanggung jawab terhadap penghancuran kehidupan dan harapan anak-anak tersebut?
Mereka yang tidak tahan lagi menanggung keadaan itu telah melarikan diri dalam ketakutan ke bagian-bagian lain negara tersebut atau ke negara-negara tetangga, hingga layanan kesehatan dan sosial si sana benar-benar dibanjiri oleh gelombang jutaan pengungsi yang menyerbu tanpa aba-aba.
Saat ini, 70 persen dari penduduk di Irak hidup tanpa pasokan air yang memadai, 80 persen dari semesta yang sama tidak memiliki sarana sanitasi layak. Dr. Abdul-Rahman Adil Ali dari Direktorat Kesehatan Baghdad telah mengingatkan tentang dampak serius dari sistem pembuangan yang tak bekerja. "Di beberapa bagian lingkungan miskin Baghdad," katanya, "orang minum air yang bercampur dengan limbah."
Rumah-rumah sakit tidak mampu menampung kebutuhan masyarakat. 90 persen rumah sakit kekurangan sumber daya dasar medis dan pasokan bedah. Kebanyakan badan bantuan internasional telah meninggalkan negara tersebut, sebuah keadaan yang diperburuk dengan emigrasi tenaga-tenaga terampil, khususnya tenaga medis. Dari 34.000 dokter yang hidup di negara tersebut pada tahun 2003, 12.000 orang telah beremigrasi, dan lebih dari 2.000 orang telah terbunuh.
Perang tersebut tidak hanya mempengaruhi Irak. Kantor Anggaran Kongres on-partisan AS saja telah mengeluarkan sebuah laporan kepada para pembuat hukum, yang menyatakan bahwa perang itu pada akhirnya dapat merugikan pemerintah AS lebih dari satu triliun dolarsetidaknya dua kali lipat dari yang telah dikeluarkan. Itu akan terjadi bahkan dalam keadaan terbaik sekalipunpengurangan segera jumlah pasukan secara besar-besarandan mempengaruhi para pembayar pajak Amerika setidaknya selama sepuluh tahun kedepan.
Para prajurit AS memiliki luka-luka psikologis yang dapat bertahan seumur hidup. Sebuah penelitian tahun 2004 terhadap 1.300 anggota pasukan terjun payung Fort Bragg yang turut serta dalam perang menunjukkan bahwa 17,4 persen menderita Sindrom Tekanan Pasca Trauma. Sebagai tambahan, banyak prajurit yang menderita begitu banyak luka, sehingga istilah "politrauma" semakin banyak digunakan oleh dokter-dokter militer.
Menanggapi kondisi gawat yang dihadapi hampir seluruh penduduk negara tersebut, perbaikan mekanisme penyebaran makanan dan obat-obatan sangat menentukan, dan untuk mendukung kerja badan-badan non-pemerintah yang terus berkarya di Irak. Asosiasi Psikolog Irak telah mendesak masyarakat internasional untuk membantu pembangunan pusat-pusat yang mengkhususkan diri dalam psikologi anak dan program-program bagi kesehatan mental anak-anak, yang merupakan kebutuhan paling mendesak.
Menurunkan iklim kebencian dan ketidakpercayaan yang sedang merundung Irak, juga tak kalah pentingnya. Perbaikan kesehatan rakyat Irak di seluruh level akan membuat mereka merasa tak dilupakan dan diabaikan. Karena reputasi UNICEF dan WHO dalam menjalankan kewajiban mereka memperbaiki kesehatan di seluruh penjuru dunia, sebuah gugus kerja yang terdiri dari para pejabat kedua organisasis itu seharusnya dibentuk untuk mengatasi kebutuhan kesehatan rakyat Irak paling mendesak dan merencakan tindakan kedepan. Perbaikan kesehatan rakyat dapat menjadi kunci untuk memecahkan lingkaran setan kenegatifan dan ketidakpercayaan, sehingga bangsa irak dapat menyemikan kembali harapan-harapan mereka.
###
* César Kelala adalah seorang konsultan kesehatan masyarakat internasional dan pemenang bersama penghargaan Overseas Press Club of America untuk artikel tentang hak-hak asasi manusia. Ia adalah koresponden asing Middle East Times International (Australia). Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.
Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 27 Nopember 2007, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta. 3)~Pandangan Kaum Muda~ Hidup dalam Gelembung di Lebanon
Raisa Batakji Beirut Fadi adalah seorang mahasiswa kedokteran berusia 23 tahun yang tinggal dalam sebuah gelembung. Ia berjalan mengelilinginya, keluar dengan seorang gadis yang tinggal dalam gelembung yang sama, dan bersosialisasi dengan teman-teman dari masyarakat gelembungnya. Fadi dan sesama penghuni gelembung tersebut merupakan sejumlah besar dari rakyat Lebanon.
Tetapi jika gelembung-gelembung keagamaan, etnis atau kebudayaan ini suatu saat meletus, akankah Fadi dan kawan-kawannya mampu menghirup udara yang berbeda? Mendengar suara-suara yang berbeda? Berbicara bahasa yang berbeda?
Pemerintah Lebanon dewasa ini secara resmi mengakui delapan belas sekte keagamaan berbeda yang tersebar dalam wilayah seluas 10.452 kilometer per segi itu. Hal tersebut membuat Lebanon menjadi sebuah negara dengan banyak agama, tetapi begitu kecil ruang. Demokrasi Lebanon "diperintah" oleh sebuah sistem pengakuan berdasarkan kuota yang membagi kedudukan-kedudukan politik utama negara di antara berbagai sekte. Misalnya, undang-undang Lebanon menyatakan bahwa presiden haruslah seorang Krisian Maronit, Juru Bicara Parlemen seorang Muslim Syiah, dan Perdana Menteri seorang Muslim Sunni. Selanjutnya, sebuah pengamatan sejarah yang berulang dengan jelas menunjukkan bahwa berbagai permasalahan sektarian utama yang muncul, terutama terjadi ketika berbagai ketegangan politik mencapai puncaknya, dan sebaliknya. Karena itu, politik dan sektarianisme di Lebanon dari dulu saling berkaitan, dengan berbagai blok politik utama berhubungan dengan sebuah sekte keagamaan tertentu.
Masalah keragaman Lebanon tidak hanya terletak pada kenyataan bahwa hal tersebut tidak dihargai, tetapi bahwa ia juga memunculkan ancaman. Kebanyakan, jika bukan semua orang, dari berbagai sekte atau kelompok politik merasa terancam oleh yang lain. Karena itu, orang-orang yang memiliki hubungan keagamaan atau politik di Lebanon sering menemukan perlindungan di dalam masyarakat mereka sendiri, yang selalu menyediakan layanan-layanan sosial, keamanan, kesempatan-kesempatan kerja, terkadang bahkan sekolah bagi anak-anak mereka.
Akibatnya, banyak orang berakhir dengan menghabiskan sebagian besar hidup mereka bersembunyi dalam gelembung-gelembung mereka sendiri. Anda dapat dengan mudah menemukan orang-orang yang tidak pernah berkomunikasi dengan orang-orang dari sekte berbeda atau afiliasi politik yang berbeda, walaupun secara jarak mereka sangat dekat.
Masalah gelembung ini mungkin terasa begitu penting ketika berbicara tentang kaum muda Lebanon, karena mereka mewakili sebuah harapan baru bagi permasalahan-permasalahan yang telah berlumut. Acap kali, mereka menjadi korban dari sistem pemisahan yang ada, dan akhirnya bergabung dengan partai politik yang sama, mengambil ide-ide yang sama, belajar di sekolah agama yang sama, serta menaikkan bendera yang sama seperti para orang tua mereka
Dalam enam tahun terakhir, ketika peristiwa-peristiwa politik mencapai puncaknya, sekali lagi menyusul pembunuhan terhadap Perdana Menteri Rafik Hariri, Lebanon telah menyaksikan kebangkitan aktivitas LSM. LSM-LSM ini menghimpun orang-orang demi kesejahteraan seluruh negara. Banyak dari LSM ini yang menyerukan anti-sektarianisme, sekularisme, dan bahkan pembentukan sebuah pemerintah bayangan kaum muda. Terlepas dari keberhasilan dari beberapa proyek ini, secara umum, mereka menghadapi banyak masalah, khususnya dalam pendekatan dan keberlanjutan hasil mereka.
Kita tidak dapat serta merta mengikuti metode-metode Barat dan mengharapkan mereka berjalan dengan sempurna di masyarakat Lebanon. Sebuah contoh pendekatan khas Barat untuk menyelesaikan masalah sosio-politik seperti ini adalah meluncurkan kampanye-kampanye kesadaran tentang subyek masalah dan menyerukan pelaksanaan berbagai seminar dan konferensi pendek dan sesaat yang mengumpulkan seluruh pemuda. Tidak seperti di Amerika Serikat yang para mahasiswa perguruan tingginya boleh dibilang lepas dari pendapat dan gaya hidup orang tua mereka, kebanyakan kaum muda Lebanon masih tinggal bersama orang tua mereka selama dan setelah perguruan tinggi, dengan demikian para mahasiswa tersebut kembali ke rumah yang sama, gelembung yang sama, di akhir hari mereka, yang mengurangi dampak dari pengalaman-pengalaman singkat ini.
Orang muda Lebanon perlu melihat, merasakan, menyentuh, dan mendengar hal-hal yang sama-sama mereka miliki, tanpa memandang perbedaan-perbedaan umum yang ada. Kaum muda perlu meninggalkan kerutinan sehari-hari mereka, dan hidup di antara mereka sendir, tanpa campur tangan apa pun dari orang tua, tetangga, atau afiliasi politik mereka. Dengan mengirim orang-orang muda ke perkemahan bekerja-belajar antaragama, tempat mereka diharuskan untuk bekerja bersama dan mempengaruhi kecakapan setiap orang seperti kepemimpinan, kerja kelompok, dan perdebatan konstruktif dalam rangka mencapai tujuan-tujuan bersama. Dalam prosesnya, mereka dihadapkan dengan tantangan-tantangan yang mewakili berbagai permasalahan yang mungkin mereka hadapi di dunia nyata. Sebuah simulasi yang berhasil dari sebuah dunia yang bebas gelembung akan membantu menunjukkan bahwa sebuah versi nyata dari dunia seperti itu ternyata memungkinkan.
Dewasa ini, Lebanon sedang mengalami puncak politik terburuk dalam sejarah modern negara tersebut, tempat kita dibiarkan untuk pertama kalinya tak memiliki presiden terpilih, karena kurangnya dialog di kalangan para pemimpin negara dan katanya diplomat. Dan yang lebih mendesak lagi, kaum muda negara ini harus memilih sebuah masa depan yang berbeda, dan mulai melihat peran mereka sebagai unsur aktif perubahan.
###
* Raisa Batakji sedang menjalani tahun keduanya di jurusan seni komunikasi dan jurnalisme Lebanon American University in Beirut. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.
Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 27 Nopember 2007, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta. 4)Kekuatan Ide Buruk
Tom Plate Bali, Indonesia Dalam pasar ide dunia, segala sesuatu memiliki nilainya sendiri, bahkan sebuah ide buruk.
Sebuah ide buruk bahkan dapat melimpahi dataran kebenaran tergelap dengan cahaya yang gemerlap ― dengan cara yang tak dapat dilakukan oleh sebuah fakta semata.
Pertimbangkanlah, misalnya, ide bahwa Islam tidak sesuai dengan demokrasi. Itu merupakan ide yang sangat buruk ― tapi hal tersebut dapat memiliki tujuan yang sangat baik. Untuk awalnya, gagasan ketidaksesuaian Islam dengan demokrasi dapat memotivasi umat Muslim yang paling moderat dan beradab untuk tak hanya berdiam diri saja dan menyusun pembelaan terhadap agama dan budayanya dengan semangat kemenangan dan keyakinan yang menawan.
Itulah apa yang benar-benar terjadi ketika Anwar Ibrahim yang karismatik dan sulit dicari bandingannya berbicara pada " The Asian Century Begins", sebuah konferensi tiga hari yang diselenggarakan oleh International Association of Political Consultants (IAPC) pada awal bulan ini.
Anwar ― seorang Muslim yang taat dan terpelajar ― adalah Wakil Perdana Menteri Malaysia dari tahun 1993-98, yang kemudian selama beberapa tahun menjalani hukuman penjara sebagai tahanan politik Malaysia.
Diampuni karena adanya perubahan pemerintah nasional, pembaharu ini, yang sekarang mengisyaratkan akan memasuki kembali pemilihan umum di negaranya, hampir-hampir bersikap evangelis tentang perlunya ― dan kemungkinan tercapainya ― hubungan Timur-Barat yang harmonis.
Seperti Indonesia, negaranya sebagian besar berpenduduk Muslim dan memiliki sebuah struktur pemerintahan yang sama sekali sekuler. Apa yang begitu nyata dan mengesankan tentang konferensi ini adalah jumlah peserta VIP Muslim yang begitu mendukung dan bangga dengan pemerintahan sekuler mereka.
"Keraguan terhadap ketidaksesuaian Islam sama saja mempertanyakan apakah agama Kristen dan demokrasi sangat sesuai," suara Anwar menggelegar, padahal ia tipe orang yang hati-hati dan jarang bersuara keras. "Mengapa tidak sekalian menanyakan apakah Yudaisme dan demokrasi sesuai! Mengapa kita hanya melihat kaum Islamis sebagai kambing hitam?"
Cara Anwar dan banyak umat Muslim lain melihat berbagai hal, orang yang menganggap bahwa Islam tidak dapat menghindarkan diri jatuh ke dalam ekstremisme merupakan munafik dan/atau bodoh. Mereka menunjuk Turki dan Indonesia sebagai contoh-contoh utama dari masyarakat Muslim yang sangat besar , yang benar-benar merupakan kekuatan politik yang sekuler.
Mereka menunjukan bahwa kaum Islamis di Asia Tenggara tidak pernah memiliki perselisihan dengan sekularisme. "Sama sekali tidak ada perdebatan serius di Indonesia tentang demokrasi sekuler," tegas Anwar.
Bintang politik Malaysia tersebut kemudian mengejutkan setiap orang dengan menunjuk sebuah sumber inspirasi utama, yang biasanya didiskreditkan, bagi kelangsungan pemerintah kontemporer non-relijius Indonesia. "Berikan penghargaan kepada Suharto yang membuat umat Muslim menerima perlunya sebuah negara sekuler. Bahkan para pemimpin muda Indonesia juga meyakini nilai negara sekuler." Mantan Presiden Suharto, kini kondisi kesehatannya terus memburuk dan tidak memiliki kekuasaan apapun, , hingga tahun 1998, selama 30 tahun lebih telah menguasai Indonesia yang luas, yang dulu merupakan jajahan Belanda, dengan tangan besi dan keserakahan tak berdasar. Transparency International pernah memeringkatkannya pada posisi teratas dari semua diktator dunia dalam hal korupsi.
Tetapi di kalangan para pengusaha, Suharto dianggap pembawa modernisasi ekonomi, yang membawa kesejahteraan baru bagi negara tropis bekas bencana perekonomian ini. Di antara banyak Muslim moderat negara tersebut, Suharto dihargai karena menjauhkan dan mengendalikan orang-orang sinting negara, sambil membiarkan para pengusaha yang waras berkarya dan mengembangkan perekonomian.
"Suharto memberikan negaranya 30 tahun lebih ketiadaan perdebatan tentang arti penting dari sekularisme," jelas Anwar.
Tetapi bagaimana dengan para Muslim itu ― betapapun kecilnya jumlah minoritas, entah di Indonesia atau dimanapun ― yang mengkhotbahi racun eksklusi, mengubah diri mereka sendiri menjadi bom manusia, atau menerbangkan pesawat sipil ke gedung-gedung yang sangat tinggi dan terkenal? "Sebagian umat Muslim perlu mendengar lebih baik," katanya. "Jalan sejati bagi Islam politik dimulai dari [tempat seperti] Jakarta. Ancaman terhadap demokrasi tidak berasal dari Islam ... tetapi kita harus menghindari tafsiran-tafsiran sempit tentang Syariah [hukum Islam]."
Anwar juga berdoa bahwa para pendukung sekularisme tidak akan membuat kesalahan pengemasan filosofi tata pemerintahan yang netral terhadap agama sebagai sebuah gerakan anti-agama: "Sebuah negara sekuler dapat menjadi negara yang bersahabat dengan agama dan dapat diterima warga Muslim. Pembangunan sebuah masyarakat yang taat penting artinya ― bahkan ketika negara tersebut tetap bersikap netral secara keagamaan."
Dewasa ini, Indonesia ― negara berpenduduk Muslim paling besar dan pada kenyataannya negara berpenduduk terbanyak keempat di dunia ― semakin lama kelihatannya semakin menjadi sebuah cerita yang sangat penting, bentangan kisah, yang mungkin saja akan menentukan arah abad ini. Karena jika Anwar dan kelompok Muslim moderat benar, maka hubungan antara Timur dan Barat akan terbukti tak sekeras benturan trans-civilisational march of progress.
Sayang, tidak banyak orang Barat yang kelihatannya mengerti bahwa dunia Islam tidak bisa disamakan dengan Bin Laden, kecuali mayoritas moderat kehilangan pegangan mereka dan orang-orang seperti Anwar dihalangi berkuasa ― atau kecuali Barat terus menerus dan dengan keras kepala menggambarkan Islam dalam stereotip yang menusuk, sehingga pulasan propaganda berubah menjadi ramalan yang nyata, hingga kita akhirnya meyakinkan mereka agar mengokang senapan.
###
* Tom Plate, seorang anggota Burkle Center for International Relations, dan kolumnis sindikat jurnalisme yang muncul di harian-harian internasional, dari Tokyo hingga Seattle. Ia dapat dihubungi melalui
platecolumn@hotm.... Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.
Sumber: Korea Times, 19 Nopember 2007, www.koreatimes.co.kr
Telah memperoleh hak cipta. 5)Belajar dari Bangsa Indonesia
Sana Rizwan Farid Washington, DC - Malapetaka Masjid Merah awal tahun ini, sekali lagi mengangkat isu pembaruan madrasah, sekolah-sekolah agama Muslim, ke permukaan. Kelihatannya ada keyakinan umum di kalangan warga dan media Barat bahwa madrasah membantu menyuburkan intoleransi dan ekstremisme, serta lahan perekrutan teroris. Kenyataannya, laporan komisi 11/9 yang dikeluarkan di Amerika Serikat kelihatannya menganggap pendidikan madrasah, khususnya di Pakistan, sebagai sebuah sumber permasalahan. Walaupun mengakui bahwa hanya segelintir kecil madrasah yang mendorong ekstremisme dan radikalisme, pertanyaannya tetap bagaimana pemerintah Pakistan dapat membantu mengubah sistem sambil tetap mempertahankan berbagai manfaat dari keberadaan madrasah?
Di bawah sistem sekarang ini, madrasah memberikan pendidikan yang fokus pada agama. Banyak keluarga-keluarga miskin, khususnya mereka yang berasal dari wilayah pedesaan, mengirim anak-anak mereka ke madrasah-madrasah tempat mereka disediakan gratis tempat tinggal, pendidikan (walaupun hanya pendidikan agama), dan dua kali makan sehari. Sebagai tambahan, banyak keluarga yang begitu percaya bahwa anak-anak membutuhkan pendidikan agama selain pendidikan sekuler. Karena itu, banyak keluarga yang terkadang memindahkan anak-anak mereka dari sekolah-sekolah sekuler ke sekolah-sekolah agama untuk sementara waktu dengan tujuan memperoleh pendidikan agama, sebelum akhirnya melanjutkan kembali pendidikan arus utama mereka.
Saya pikir dalam rangka mengatasi kemunduran dari pendidikan madrasah (intoleransi dan pandangan yang sangat sempit tentang agama) sambil tetap mempertahankan sistem kesejahteraan sosial, para pembuat kebijakan Pakistan akan memperoleh manfaat dengan mengamati sekolah-sekolah agama Indonesia yang juga dikenal sebagai pesantren. Pesantren-pesantren ini dikenal mengajarkan bentuk moderat dari Islam.
Pesantren yang saya kunjungi terletak di Bogor, Indonesia, dekat dengan ibukota Indonesia Jakarta. Sekolah agama Muslim tersebut dijalankan oleh Departemen Pendidikan dan Departemen Agama. Saya mengunjungi sekolah tersebut dan berharap semua sekolah agama dapat menjadi serupa itu.
Sekolah tersebut sekolah campuran, memberikan pendidikan sekuler dan agama bagi anak-anak laki-laki dan perempuan dalam suasana ruang kelas yang bercampur. Ada interaksi yang bebas antara kedua jenis kelamin tersebut. Para murid dan guru perempuan mengenakan jilbab, atau kerudung, tetapi ini sama sekali tidak membatasi kebebasan mereka berinteraksi. Para murid shalat berjamaah, tetapi ketika waktu istirahat mengambil sebuah gitar dan berkumpul menyanyikan lagu-lagu pop lokal terbaru. Sekolah tersebut sangat memiliki kesadaran untuk mencampur pendidikan agama sambil tetap mempertahankan elemen-elemen budaya Indonesia. Para murid juga merupakan anggota pramuka putra dan putri tempat mereka diajarkan untuk mampu mandiri. Sekolah memberi makan baik untuk para siswa biasa maupun siswa pondokan.
Saya menghabiskan waktu enam bulan di Jakarta dan menyadari bahwa sekolah ini bukan satu-satunya, tetapi bahwa ini merupakan sistem pendidikan keagamaan di Indonesia. Mudah untuk mengenali para santri ini di seluruh Jakarta dan tempat-tempat lain di pedesaan Indonesia dengan rok panjang putih mereka bagi perempuan dan seragam putih bagi laki-laki. Ada lebih dari 14.000 pesantren di Indonesia dan mereka memberikan keuntungan-keuntungan yang sama dengan madrasah-madrasah di Pakistan. Mereka menyediakan kamar dan asrama, serta pendidikan dalam bidang-bidang yang bahkan pemerintah tidak dapat membuat sekolah seperti itu.
Saya merasa campuran agama dan sekuler yang mereka miliki di Indonesia memungkinkan kaum muda untuk menjadi lebih toleran, tak hanya terhadap agama-agama lain, tetapi juga pada mereka yang cenderung untuk menjadi berbeda dalam agama kita sendiri. Sebagai tambahan, kelas-kelas dan interaksi campuran memungkinkan suatu tingkat penghormatan dan toleransi antar jender. Saya sangat percaya bahwa Pakistan dapat belajar banyak dari mereka.
Pemerintah Pakistan dapat memperoleh hasil yang baik jika menginvestasikan sumber-sumber daya yang mencari jalan keluar apa yang membuat pesantren-pesantren ini berjalan begitu baik di Indonesia, mengapa hampir 20 persen jumlah murid di Indonesia memperoleh pendidikan mereka dari berbagai sekolah dan sekolah menengah ini, mengapa Indonesia masih dapat mempertahankan reputasinya sebagai sebuah negara Muslim moderat, bahkan dengan sebuah sistem madrasah yang tersebar luas?
###
* Sana Rizwan Farid adalah seorang analis di Georgetown University, Washington DC. Ia dapat dihubungi melalui
sanafarid@gmai.... Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.
Sumber: Dawn, 4 Nopember 2007, www.dawn.com
Telah memperoleh hak cipta. Pandangan Kaum Muda
CGNews-MK juga secara berkala mempublikasikan tulisan-tulisan para mahasiswa jurnalis yang memperkuat pemahaman antar budaya dan mendorong perspektif dan dialog konstruktif di lingkungan mereka sendiri. Mahasiswa jurnalis dan para penulis di bawah usia 27 tahun dianjurkan untuk menulis kepada Chris Binkley (
cbinkley@sfcg...) untuk informasi lebih lanjut tentang pengiriman tulisan. Tentang CGNews-MK
Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews-MK) mempublikasikan berita, opini, feature dan analisis oleh para ahli baik lokal maupun internasional mengenai berbagai masalah yang berkaitan dengan hubungan Muslim-Barat. CGNews-MK mengumpulkan artikel-artikel yang berimbang dan berorientasi-solusi dari media massa di seluruh dunia. Dengan dukungan dari pemerintah Inggris, Norwegia dan Amerika Serikat, United States Institute of Peace, serta para donatur pribadi, layanan ini merupakan inisiatif nir-laba dari Search for Common Ground, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional yang bergerak di bidang transformasi konflik.
Layanan ini merupakan salah satu hasil dari serangkaian pertemuan kerja yang diadakan dengan kemitraan bersama Pangeran HRH El Hassan bin Talal di Jordania, pada bulan Juni 2003.
Kantor Berita Common Ground juga membuat dan menyebarluaskan artikel-artikel berorientasi-penyelesaian masalah yang ditulis oleh para ahli baik lokal maupun internasional demi memajukan perspektif yang membangun dan mendorong dialog mengenai masalah-masalah Timur Tengah dewasa ini. Layanan ini, Kantor Berita Common Ground - Timur Tengah (CGNews-TT), juga tersedia dalam bahasa Arab, bahasa Inggris dan bahasa Hebrew. Untuk berlangganan, klik di sini.
Pandangan yang disampaikan dalam artikel-artikel ini merupakan pandangan para pengarangnya, dan bukan pandangan CGNews-MK atau afiliasinya.
Kantor Berita Common Ground
1601 Connecticut Avenue, NW Suite #200
Washington, DC 20009 USA
Ph: +1(202) 265-4300
Fax: +1(202) 232-6718
Rue Belliard 205 Bte 13 B-1040
Brussels, Belgia
Ph: +32(02) 736-7262
Fax: +32(02) 732-3033
Email :
cgnewspih@sfcg...
Website : www.commongroundnews.org
Editor
Leena El-Ali (Washington)
Juliette Schmidt (Canada)
Diya Agha (Washington)
Emmanuelle Hazan (Geneva)
Nuruddin Asyhadie (Jakarta)
Andrew Kessinger (Washington)
Mahmoud Zawawi (Amman)
Rashad Bukhari (Islamabad)
Penerjemah
Françoise Globa (Geneva)
Rio Rinaldo (Jakarta)
Azmi Tubbeh (Washington)
Amer Khan (Islamabad)
CGNews adalah kantor berita nir-laba.
---------------------------------
Be a better pen pal. Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how.
opensubscriber is not affiliated with the authors of this message nor responsible for its content.