opensubscriber
   Find in this group all groups
 
Unknown more information…

p : ppiindia@yahoogroups.com 29 June 2007 • 10:26PM -0400

RE: [ppiindia] Re: [mediacare] Pujiku kepada Ramalan Ronggowarsito
by Bambang Sayekti Arum

REPLY TO AUTHOR
 
REPLY TO GROUP






Mas As As, anda keliru...

Saya paham benar dengan yang dimaksud oleh mas Harry itu memang benar,
bahwa karya sastra Pujangga Ronggowarsito itu bersifat ramalan/ nubuat.

Ramalan Ronggowarsito (Raden Ngabehi Ronggowarsito) atau lebih dikenal
dengan nama Jangka Jayabaya.

Sebenarnya, Jangka Jayabaya ini tidak lain hanyalah sekedar translate
sastra dari Ronggowarsito (1804-1873).

Disebut Jangka karena sifat nya yang seperti "JANGKA" yang mampu menarik
/mengukur jarak secara tepat.

Berikut, petikan Jangka Jayabaya yg saya ingat:



Mbesuk jen wis ana kreta mlaku tanpa turangga

Tanah Djawa kalungan wesi,

Prahu mlaku ing a duwur awang2.

Wong wadon nganggo pakean lanang

Akeh wong wadon ngedol awake.

Akeh udan salah mangsa

=======================================================================

Terjemahan bebas:

Besok jika ada kereta berjalan tanpa kuda (bisa jadi mobil, bis, truk,
kendaraan bermotor, dsb )

Tanah Jawa berkalung besi (rel kereta api)

Perahu terbang diatas angkasa ( mungkin maksudnya adalah pesawat
terbang, pesawat luar angkasa)

Perempuan berpakaian laki-laki

Banyak wanita menjual diri (mungkin maksudnya adalah, prostitusi)

Banyak hujan salah musim (kejadian kan? Dulu mungkin memang terjadi,
tapi tidak separah skrg ini)

=======================================================================



Jika di "luar sono" ada nostradamus, maka disini kita punya Jangka
Jayabaya.

Pesan saya, cintailah produk dalam negri !

Lho....kok gak nyambung yach ??? hihihihi......





Best Regards,

Bambang Sayekti Arum A

Channel Dev.

Sales & Territory Dev.

PT. SINAR NIAGA SEJAHTERA

Jl. Raya Magelang Km. 6.5 No. 192

Sinduadi, Sleman

Jogjakarta

Telp. 0274-868630

Cell. 081-325-755-345



-----Original Message-----

From: ppiindia@yaho... [mailto:ppiindia@yaho...
<mailto:ppiindia@yaho...> ] On Behalf Of as as

Sent: Thursday, June 28, 2007 11:53 PM

To: mediacare@yaho...; ppi india; hksis hksis

Subject: [ppiindia] Re: [mediacare] Pujiku kepada Ramalan Ronggowarsito

Yang dimaksud Ronggowarsito dengan zaman edan itu adalah zaman yang
dialami oleh Ronggowarsito sendiri.

Pada zaman itu, korupsi sudah mulai ada di kalangan para pejabat kraton.

Jadi itu bukan ramalan.

Hanya saja, zaman edan sekarang ini lebih gila daripada zaman edannya
Ronggowarsito dahulu.

Harry Adinegara <sans_culotte_30@yaho...> wrote:

Puji ke Ronggowarsito, sampeyan telah menyelamatkan aku si ikan kecil
ini dari malapetaka.

Kenapa tidak........? Beberapa tahun lalu aku diajak ber-mitra oleh
konco-ku untuk membangun perkebunan, rencananya perkebunan segala macam
buah2an di Indonesia. Sudah di diskusikan tempat2 mana yang dengan mudah
bisa akses dengan mempertimbangkan jarak tempat tinggal dan perkebunan.

Tapi sekarang membaca adanya ramalan Ronggowarsito yang bilang kalau
sebenarnya Indonesia saat ini sudah memasuki era-nya negara yang di-urus
dan di huni oleh orang2 edan.Maka tak berlebihanlah kalau aku bilang
betapa untungnya aku tidak ikut2an ber-mitra edan2nan di Indonesia.

Rupanya kalau aku bilang kalau negara kita sudah dalam keadaan deldel
duwel itu rupanya masih ringan ketimbang Ronggowarsito yang bilang
negara Indonesia negaranya orang edan.

Apa bisa sembuh ya kalau orang sudah edan selama 62 tahun-nan lebih ?

Sekarang dua golongan orang edan sedang ber-silaturahmi. Tujuannya untuk
memenangkan pemilu orang2 edan di tahun 2009. Gawat bener nih. Bila
sampai kesampaian tujuan ini, kedua golongan besar orang edan berkuasa
maka sudah tamatlah negara ini. Dua golongan yang sudah berstatus
sebagai golongan edan tingkat gawat bermitra mengurus negara deldel
duwel.

Terima kasih Ronggowarsito, puji2ku kepadanya!

Harry Adinegara







http://www.sinarharapan.co.id/berita/0706/27/opi01.html
<http://www.sinarharapan.co.id/berita/0706/27/opi01.html>

Tanda-tanda Ramalan Ronggowarsito

Oleh

Benny Susetyo PR

Melihat fenomena sosial akhir-akhir ini bisa dikatakan saat ini kita
berada di zaman yang tidak normal (abnormal). Kalau mengikuti ungkapan
Ronggowarsito, akan datang satu zaman yang disebut sebagai zaman edan,
benarkah saat ini kita sudah berada di zaman itu? Di zaman edan siapa
yang tidak edan tidak kebagian.

Orang waras dianggap tidak waras, tapi penjahat negara dianggap sebagai
pahlawan. Walaupun begitu, menurut Ronggowarsito, sebaik-baik orang di
zaman edan adalah mereka yang ingat dan waspada (eling lan waspadha).

Di zaman abnormal, semua akan berkebalikan dengan yang normal. Jika
normalnya di negeri tani sesubur Indonesia, masyarakatnya tidak antre
beras dan minyak goreng, maka di zaman tidak normal bahkan masyarakat
tani pun antre beras.

Di zaman tidak normal, semua serba tidak jelas ukuran kemajuannya.
Ukuran yang dipakai adalah ukuran dari dirinya sendiri. Perilaku tidak
obyektif karena tergantung dari selera pasar. Kalau pasar sedang
berselera hidup antikorupsi, maka semua orang akan berbicara antikorupsi
meskipun perilakunya sendiri sungguh-sungguh korup.

Tanda-tanda zaman seperti ini sudah mulai menjadi wajar. Ikatan
kesejatian tidak lagi menjadi bagian hidup dalam menciptakan
kebersamaan. Kesejatian hidup meluntur seiring dengan menguatnya hasrat
orang untuk berjuang demi dirinya sendiri.

Egoisme manusia mengalahkan semua perasaan senasib dan seperjuangan.
Kita dididik dalam situasi di mana "aku mengalahkan maka aku ada". Siapa
kalah siapa menang. Siapa kamu siapa aku. Sapa sira sapa ingsun.
Solidaritas yang terbentuk merupakan solidaritas semu, karena terbentuk
bukan sikap saling menghargai sesama (kemanusiaan) melainkan aspek
kepentingan praktis.

Kecenderungan yang terjadi dalam perekonomian bangsa ini juga merupakan
kesemuan belaka. Pertumbuhan ekonomi katanya meningkat, anehnya tidak
mampu mengurangi pengangguran terus meningkat, dan daya beli dan hidup
rakyat yang semakin lemah. Katanya angka kemiskinan berkurang, nyatanya
kehidupan rakyat semakin sengsara akibat ketahanan hidup yang makin
melemah.

Tidak Jelas

Modus kriminalitas yang

semakin bervariasi akhir-akhir ini, lihatlah, sering disebabkan oleh
masalah-masalah "harga diri" sepele. Anak membunuh orang tua, orang tua
membunuh anak, sesama saudara sekandung saling berbunuhan. Semakin ngeri
melihat fenomena sosial seperti ini. Jika demikian, sudah tepatlah
ramalan Ronggowarsito tentang zaman edan itu.

Pertumbuhan ekonomi semakin menaik tetapi tak mampu menetes ke bawah
untuk orang miskin. Orang miskin semakin tak berdaya menghadapi beban
hidup yang terus meningkat. Semua kegemilangan itu seolah-olah hanya
menjadi hak tidak lebih dari 2 persen penduduk, dan yang 98 persen itu
hidup dalam himpitan krisis yang begitu dahsyat.

Logika akal sehat kita sudah tidak bisa memahani mengapa hal ini
dianggap wajar. Logika keadilan kita runtuh. Semangat hidup bersama
dalam suasana keadilan tidak lagi menjadi bagian dari cara berpikir,
bertindak dan bernalar. Semua serba dibuat tidak jelas aturan mainnya.
Semua dipermainkan oleh logika politik yang hanya mengejar setoran.
Seolah-olah ada namun tiada dan sebaliknya.

Politik berada di bawah bayang-bayang kekuasaan para pemodal hitam.
Mereka bekerja begitu licin sampai tidak terungkap gerak-geriknya, walau
semua orang merasakan kekuatannya. Publik mampu mencium bau tidak sedap
di mana orang-orang dalam kekuasaan bermain dengan jurus lobi-lobi.
Semua tidak terlihat, tapi nyata ada.

Pemberantasan korupsi katanya menjadi inti reformasi, nyatanya di era
reformasi orang berkorupsi justru makin banyak dan makin canggih
cara-caranya. Hal-hal seperti inilah yang membuat orang yang normal
menjadi stress. Mereka selalu bertanya mengapa harus terjadi seperti
ini.

Mereka berpikir bahwa seharusnya hukum, politik, pendidikan, ekonomi,
budaya, media dan lainnya seperti ini, nyatanya seperti itu.
Paradoks-paradoks seperti inilah yang terjadi di zaman abnormal, atau
mungkin zaman edan seperti kata Ronggowarsito.

Berharap pada Institusi

Ujian nasional yang jelas-jelas

melanggar undang-undang
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0706/27/opi01.html
<http://www.sinarharapan.co.id/berita/0706/27/opi01.html>

Tanda-tanda Ramalan Ronggowarsito

Oleh

Benny Susetyo PR

Melihat fenomena sosial akhir-akhir ini bisa dikatakan saat ini kita
berada di zaman yang tidak normal (abnormal). Kalau mengikuti ungkapan
Ronggowarsito, akan

datang satu zaman yang disebut sebagai zaman edan, benarkah saat ini
kita sudah berada di zaman itu? Di zaman edan siapa yang tidak edan
tidak kebagian.

Orang waras dianggap tidak waras, tapi penjahat negara dianggap sebagai
pahlawan. Walaupun begitu, menurut Ronggowarsito, sebaik-baik orang di
zaman edan adalah mereka yang ingat dan waspada (eling lan waspadha).

Di zaman abnormal, semua akan berkebalikan dengan yang normal. Jika
normalnya di negeri tani sesubur Indonesia, masyarakatnya tidak antre
beras dan minyak goreng, maka di zaman tidak normal bahkan masyarakat
tani pun antre beras.

Di zaman tidak normal, semua serba tidak jelas ukuran kemajuannya.
Ukuran yang dipakai adalah ukuran dari dirinya sendiri. Perilaku tidak
obyektif karena tergantung dari selera pasar. Kalau pasar sedang
berselera hidup antikorupsi, maka semua orang akan berbicara antikorupsi
meskipun perilakunya sendiri sungguh-sungguh korup.

Tanda-tanda zaman seperti ini sudah mulai

menjadi wajar. Ikatan kesejatian tidak lagi menjadi bagian hidup dalam
menciptakan kebersamaan. Kesejatian hidup meluntur seiring dengan
menguatnya hasrat orang untuk berjuang demi dirinya sendiri.

Egoisme manusia mengalahkan semua perasaan senasib dan seperjuangan.
Kita dididik dalam situasi di mana "aku mengalahkan maka aku ada". Siapa
kalah siapa menang. Siapa kamu siapa aku. Sapa sira sapa ingsun.
Solidaritas yang terbentuk merupakan solidaritas semu, karena terbentuk
bukan sikap saling menghargai sesama (kemanusiaan) melainkan aspek
kepentingan praktis.

Kecenderungan yang terjadi dalam perekonomian bangsa ini juga merupakan
kesemuan belaka. Pertumbuhan ekonomi katanya meningkat, anehnya tidak
mampu mengurangi pengangguran terus meningkat, dan daya beli dan hidup
rakyat yang semakin lemah. Katanya angka kemiskinan berkurang, nyatanya
kehidupan rakyat semakin sengsara akibat ketahanan hidup yang makin
melemah.

Tidak Jelas

Modus kriminalitas yang

semakin bervariasi akhir-akhir ini, lihatlah, sering disebabkan oleh
masalah-masalah "harga diri" sepele. Anak membunuh orang tua, orang tua
membunuh anak, sesama saudara sekandung saling berbunuhan. Semakin ngeri
melihat fenomena sosial seperti ini. Jika demikian, sudah tepatlah
ramalan Ronggowarsito tentang zaman edan itu.

Pertumbuhan ekonomi semakin menaik tetapi tak mampu menetes ke bawah
untuk orang miskin. Orang miskin semakin tak berdaya menghadapi beban
hidup yang terus meningkat. Semua kegemilangan itu seolah-olah hanya
menjadi hak tidak lebih dari 2 persen penduduk, dan yang 98 persen itu
hidup dalam himpitan krisis yang begitu dahsyat.

Logika akal sehat kita sudah tidak bisa memahani mengapa hal ini
dianggap wajar. Logika keadilan kita runtuh. Semangat hidup bersama
dalam suasana keadilan tidak lagi menjadi bagian dari cara berpikir,
bertindak dan bernalar. Semua serba dibuat tidak jelas aturan mainnya.
Semua dipermainkan oleh logika politik yang hanya

mengejar setoran. Seolah-olah ada namun tiada dan sebaliknya.

Politik berada di bawah bayang-bayang kekuasaan para pemodal hitam.
Mereka bekerja begitu licin sampai tidak terungkap gerak-geriknya, walau
semua orang merasakan kekuatannya. Publik mampu mencium bau tidak sedap
di mana orang-orang dalam kekuasaan bermain dengan jurus lobi-lobi.
Semua tidak terlihat, tapi nyata ada.

Pemberantasan korupsi katanya menjadi inti reformasi, nyatanya di era
reformasi orang berkorupsi justru makin banyak dan makin canggih
cara-caranya. Hal-hal seperti inilah yang membuat orang yang normal
menjadi stress. Mereka selalu bertanya mengapa harus terjadi seperti
ini.

Mereka berpikir bahwa seharusnya hukum, politik, pendidikan, ekonomi,
budaya, media dan lainnya seperti ini, nyatanya seperti itu.
Paradoks-paradoks seperti inilah yang terjadi di zaman abnormal, atau
mungkin zaman edan seperti kata Ronggowarsito.

Berharap pada Institusi

Ujian nasional yang jelas-jelas

pendidikan (yang dahulu dibela mati-matian) justru dilakukan. Amendemen
konstitusi tidak

elit politik. Tetapi mereka tidak memiliki telinga untuk mendengar
jeritan itu. Telinga mereka tersumbat oleh aliran modal. Mulut mereka
tidak lagi bisa menyuarakan hati nurani karena sudah tergadai oleh
kepentingan uang.

Inilah yang membuat korupsi bertumbuh subur. Korupsi di Republik ini
seolah-olah dijamin oleh hukum. Tentu hukum yang tidak normal. Orang
yang normal berteriak-teriak, "Tegakkan hukum!", dan yang mau ditegakkan
tidak mau menegakkan dirinya sendiri. Kita berada dalam hidup yang penuh
dengan kebuntuan. Kita buntu berpikir mengenai kesejatian hidup.

Kini yang ada hanya harapan yang penuh kepalsuan. Ini zaman yang tidak
normal di mana yang normal dianggap tidak normal, dan yang tidak normal
dianggap sebagai normal. Kita tidak sadar bahwa sebenarnya kita hidup di
zaman yang tidak normal, tetapi terus-menerus berpikir seperti orang
normal.

Penulis adalah pendiri Setara Institute dan Sekretaris Komisi HAK KWI.

Messages in this topic (1) Reply (via web post) | Start a new topic

Messages

---------------------------------

Yahoo!7 Mail has just got even bigger and better with unlimited storage
on all webmail accounts. Find out more.

---------------------------------

Yahoo!7 Mail has just got even bigger and better with unlimited storage
on all webmail accounts. Find out more.

---------------------------------

Looking for a deal? Find great prices on flights and hotels with Yahoo!
FareChase.

[Non-text portions of this message have been removed]





************************************************************************
***

Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
<http://groups.yahoo.com/group/ppiindia>

************************************************************************
***

________________________________________________________________________
__

Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg
otokritik)

2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.

3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com
<http://ppi-india.blogspot.com/>  

4. Satu email perhari: ppiindia-digest@yaho...

5. No-email/web only: ppiindia-nomail@yaho...

6. kembali menerima email: ppiindia-normal@yaho...

Yahoo! Groups Links

http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/>

Individual Email | Traditional

http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
<http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join>

(Yahoo! ID required)

mailto:ppiindia-digest@yaho...
<mailto:ppiindia-digest@yaho...>  

mailto:ppiindia-fullfeatured@yaho...
<mailto:ppiindia-fullfeatured@yaho...>

ppiindia-unsubscribe@yaho...

http://docs.yahoo.com/info/terms/ <http://docs.yahoo.com/info/terms/>



Best Regards,



Bambang Sayekti Arum A



Channel Dev.

Sales & Territory Dev.



PT. Sinar Niaga Sejahtera

Jl. Raya Magelang Km. 6.5 No. 192

Sinduadi, Sleman

Jogjakarta

Telp. 0274-868630

Cell. 081-325-755-345





[Non-text portions of this message have been removed]


Bookmark with:

Delicious   Digg   reddit   Facebook   StumbleUpon

Related Messages

opensubscriber is not affiliated with the authors of this message nor responsible for its content.