opensubscriber
   Find in this group all groups
 
Unknown more information…

z : zamanku@yahoogroups.com 20 January 2008 • 4:05PM -0500

[zamanku] Re: Bu Tien Wangsit Keprabon Soeharto [Peran Ibu Tien bagi Soeharto]
by gkrantau

REPLY TO AUTHOR
 
REPLY TO GROUP




SEORANG wartawan di Jakaarta yg dulu sering meliput berita istana dan
khususnya berita keluarga Cendana mengisahkan hal berikut ini.

Begitu besar kasih sayang Pak Harto kepada Bu Tien sehingga ketika istri
tercintanya meninggal beliau seakan kehilangan pegangan. Kemudian
sejarah mencatat kematian seorang wanita yg merupakan icon dlm berbagai
bidang khususnya kecantikan, fashion dan cinta. Princess Diana meninggal
dunia dlm kecelakaan mobil di salah satu tunnel di kota Paris bersama
pacarnya Dodi Al Fayed!

Dunia ramai menangis, menggunjingkan apakah nasib naas si Princess ini
akibat konspirasi Ratu Elizabeth, dan puluhan teori konspirasi beredar.
Banyak orang termasuk seniman turut bersedih hati dg kepergian Diana
tsb. Elton John menulis sebuah lagu untuk menunjukkan admiration dan
kesedihannya atas meninggalnya sang princess. 'Candle in the wind'
menjadi instant hit di seluruh dunia termasuk di kalangan elit di
Indonesia.

Si wartawan dlm meliput keluarga Cendana, katanya, mendengar kerinduan
Pak Harto akan Bu Tien yg sudah tiada dan ingin agar seorang penulis
lagu Indonesia dpt menuliskan sebuah lagu setingkat dengan 'Candle in
the wind' tsb. guna mengenang jasa2 dan kasih sayang Bu Tien.

Seorang wartawan yg sering keki dg ulah keluarga Cendana tiba2 nyeletuk:
"'Kan sudah ada lagunya yg cocok!" Semua orang yg hadir kaget dibuatnya
dan bertanya "Yang mana?" Si kuli tinta yg nekad itu langsung
menyanyikan lagu yg setiap anak sekolah di Indonesia kenal dengan baik.
"Sorak-sorak bergembira ...."

Tidak diceritakan apa nasib si wartawan yg kurang sopan dan yg nekad
tsb. Apakah dia sempat lolos dari hajaran para pengawal Presiden atokah
dia masih hidup sejak saat itu orang tidak tau.

Gabriela Rantau



. --- In zamanku@yaho..., "Sunny" <ambon@...> wrote:
>
>
> http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2008011901174974
>
>
> Peran Ibu Tien bagi Soeharto
>
> Judul buku: Bu Tien Wangsit Keprabon Soeharto
>
> Penulis: Arwan Tuti Artha
>
> Penerbit: Galang Press, Yogyakarta
>
> Cetakan: I, 2007
>
> Tebal: 168 halaman
>
> Kondisi kesehatan Soeharto makin memburuk. Tak heran jika setiap
detik, media massa elektronik terus memantau.
>
> Sambil menunggu perkembangan, kisah-kisah tentang Soeharto ditayangkan
berikut analisisnya. Tak kurang berperan, kisah hidup Siti Hartinah (Ibu
Tie), istrinya yang telah wafat ikut menjadi warna. Sebab, peran Ibu
Tien bagi Soeharto begitu besar. Bahkan ketika ia meninggal seluruh
Indonesia mengibarkan bendera setengah tiang.
>
> Soeharto yang pernah berkuasa dengan Orde Barunya di Indonesia selama
32 tahun itu, ternyata tidak bisa lepas dari pengaruh istrinya Siti
Hartinah atau yang akrab di sapa Bu Tien. Bu Tien yang lahir di Solo
itu, dalam buku ini, dalam konteks dunia batin orang Jawa, mempunyai
wangsit keprabon yang pada akhirnya wangsit itu merasuk kepada suaminya
yang kemudian mengantarkan suaminya Soeharto menjadi seorang yang
terkuat dan paling berpengaruh di Asia, sebagaimana yang pernah diakui
majalah Asiaweek pada tahun 1996.
>
> Padahal, seperti yang pernah dikatakan Soeharto dalam autobiografinya,
dia tidak pernah bercita-bercita atau bermimpi menjadi seorang presiden
karena memang dia berasal dari keluarga miskin di sebuah dusun kecil di
Yogyakarta, yang tidak punya apa-apa. Namun, dengan menikahi Siti
Hartinah pada 26 Desember 1947, yang masih keturunan Mangkunegoro itu,
dan dengan laku spiritual atau melalui jalan keberuntungan yang harus
ditempuh Soeharto, wangsit yang tersembunyi dalam diri Siti Hartinah
akhirnya datang menghampiri Soeharto dan menjadikan Soeharto berkuasa di
Indonesia. Begitulah Arwan menandaskan dalam Bu Tien Wangsit Keprabon
Soeharto ini.
>
> Arwan mengungkap rahasia-rahasia di balik kesuksesan Soeharto, yaitu
dengan pendekatan ruang dunia batin Jawa atau dunia spiritual orang
Jawa, ia menjelaskan keberadaan Bu Tien di sisi Soeharto telah menjadi
pulung bagi keberlangsungan kekuasaan Soeharto.
>
> Sebagai keturunan Mangkunegoro III, Bu Tien telah menitiskan trah
kekuasaan ketangan Soeharto. Ia laksana api keramat kerajaan yang mampu
megangkat rakyat biasa, seperti Soeharto menjadi raja.
>
> Bahkan, Arwan mengatakan kalau seandainya Soeharto tidak menikahi Siti
Hartinah, barangkali nasib yang menghampirinya tidak akan semujur itu.
Sebab, sangat mungkin justru melalui Siti Hartinah itulah wangsit
keprabon turun ke Soeharto, mengingat Soeharto adalah keturunan orang
biasa, sedangkan Bu Tien adalah keturunan seorang raja.
>
> Ong Hok Ham, dalam bukunya, Dari Soal Priyayi Sampai Nyai Blorong
(2002: 217) membenarkan hal itu. Menurut Ong, perempuan (baca: Bu Tien)
keturunan raja ini memiliki pusaka paling keramat karena darinya berasal
api keramat kerajaan yang dapat mengangkat rakyat biasa menjadi raja.
>
> Kapan wangsit keprabon itu masuk tubuh Soeharto? Menurut Arwan, tepat
pada taggal 11 Maret 1966, saat Soekarno membubuhkan tanda tangannya
pada surat perintah di Istana Bogor yang kemudian terkenal dengan
Supersemar itu, maka saat itulah wangsit keprabon mulai angslup di tubuh
Soeharto, sehingga Soeharto pun sakit.
>
> Hal itulah yang kemudian menjadikan nasib Soeharto mujur. Dalam konsep
masyarakat Jawa, ada istilah ndilalah kersaning Allah4 atau kehendak
Tuhan. Selain itu, dalam konsep Jawa, juga dikenal dengan istilah
pulung. Pulung itu datang dari langit dan ditunjukkan kepada Soeharto.
Menurut ajaran Jawa, pulung merupakan suatu anugerah, wahyu dan tanda
dari langit. Pada saat pemilihan Kepala Desa di desa-desa Jawa,
misalnya, masyarakat biasanya memperhatikan pulung yang berseliweran,
kepada siapa pulung itu akan jatuh.
>
> Nah, dari sini dapat dikira bahwa di balik kesuksesan Soeharto itu
sesungguhnya ada kekuatan gaib dari Bu Tien yang menopang dari belakang.
Demi Soeharto, seperti yang dijelaskan Arwan, Bu Tien melakukan
tapabrata, kungkum, ngombe banyu pitung sumur, nyekar, dan berbagai
macam laku prihatin lain.
>
> Dengan tapabrata dan berbagai macam laku prihatin yang dilakukan Bu
Tien itu, kekuasaan Soeharto makin tertopang, baik ketika Soeharto
meniti kariernya sebagai militer maupun ketika menggantikan Soekarno
menjadi presiden. Dengan begitu, Bu Tien atas kekuasaan Soeharto
mempunyai andil yang cukup besar secara spiritual.
>
> Namun bukan sepenuhnya kekuasaan Soeharto itu diraih dari kehebatannya
Bu Tien. Soeharto bukan orang yang bodoh, yang kemudian menjadi penguasa
hanya gara-gara ada wangsit dari Bu Tien. Ia memang orang yang cerdas
dan punya siasat yang jitu, yang hampir-hampir tak dimiliki sebagian
besar rakyat Indonesia. Akan tetapi, seperti yang telah terjadi,
Soeharto bukanlah seorang presiden yang tangguh ketika tanpa Bu Tien.
Seperti yang kita ketahui, Soeharto makin mengalami kemunduran ketika Bu
Tien wafat.
>
> Seharusnya, begitu Bu Tien wafat pada 28 April 1996, Soeharto sudah
tidak mau lagi dicalonkan menjadi presiden. Bu Tien sendiri sebenarnya
sudah pernah menyampaikan pesan kepada rakyat Indonesia, kalau dapat
jangan mencalonkan Soeharto lagi. Sebab, pada waktu itu usia Soeharto
sudah 72 tahun dan Bu Tien 70 tahun.
>
> Jika umur sudah setua itu, dalam tafsir kejawen, sudah saatnya
Soeharto menyampaikan sabda pandhito ratu.
>
> Akan tetapi, Soeharto tidak melakukan hal itu, malah ia bersedia
dicalonkan kembali, sehingga terbukti setelah Bu Tien meninggal, dan
pada 70 hari sesudah MPR mengukuhkan Soeharto sebagai presiden dan B.J.
Habibie sebagai wakilnya pada 21 Mei 1998, terjadi perubahan besar.
Soeharto oleh rakyat dipaksa "turun" dari kursi kepresidenannya.
>
> Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa Soeharto tanpa Bu Tien tidak bisa
jadi presiden. Logikanya seperti yang dikatakan Arwan yang banyak
menulis buku tentang laku spiritual Soeharto ini, bila wangsit keprabon
yang dimiliki Bu Tien yang masuk diri Soeharto itu sudah hilang,
kekuasaan Sueharto juga akan hilang.
>
> Agnestia Ekawati
>
> Pemerhati sosial keagamaan pada Jurusan Sosiologi Agama Fakultas
Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
>



Bookmark with:

Delicious   Digg   reddit   Facebook   StumbleUpon

opensubscriber is not affiliated with the authors of this message nor responsible for its content.